PURBALINGGA — Ketua Harian Asosiasi Pengrajin Knalpot Purbalingga (APIK) Bangga Perwira Rizal menegaskan akses langsung ke pabrik Tiongkok menjadi kunci menyelesaikan persoalan terbesar industri knalpot di daerahnya. Selama ini pengrajin membeli bahan baku lewat rantai perantara yang membuat harga terus melambung.
Rizal menyampaikan hal itu dalam perjalanan bisnis yang difasilitasi Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) ke Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, pada Agustus 2026. Perjalanan tersebut diikuti 52 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Rantai Perantara Bikin Harga Jarum Tungsten Naik Empat Kali
Dampak rantai pasok berlapis paling terasa pada jarum tungsten, komponen yang dibutuhkan pengrajin untuk mengelas dan membentuk knalpot. Pada akhir 2025, harga jarum tungsten masih berkisar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per batang.
Kini harga di tingkat eceran menembus Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per batang. Rizal menargetkan impor langsung dari pabrik bisa menekan harga ke kisaran Rp 70.000 per batang.
“Bahan baku knalpot di Purbalingga 70% bergantung pada impor. Untuk mendapatkan harga yang murah, kita harus memutus rantai perantara — pengrajin harus bisa belanja langsung ke Tiongkok,” kata Rizal.
Penurunan harga itu, menurut Rizal, akan langsung meringankan beban ratusan pengrajin yang selama ini menanggung selisih biaya produksi dari kantong sendiri.
Mesin CNC Laser di Tiongkok Lebih Murah Rp 230 Juta per Unit
Selisih harga juga terjadi pada mesin produksi. Mesin CNC Laser Fiber Cutting berkapasitas 3.000 Watt yang dijual di pasar Indonesia masih di atas Rp 500 juta per unit.
Di Tiongkok, mesin dengan spesifikasi persis sama ditawarkan sekitar Rp 270 juta per unit. Selisih itu belum termasuk pajak dan ongkos kirim, tetapi tetap jauh lebih hemat bagi pengrajin skala kecil dan menengah.
Pengadaan mesin produksi knalpot bagi Asosiasi Pengrajin Knalpot Purbalingga menjadi salah satu hasil konkret perjalanan bisnis tersebut. Kerja sama lain mencakup sektor karbon aktif berbahan briket arang.
SUMU Kirim Lulusan SMK Magang di Pabrik Tiongkok
SUMU menyiapkan terobosan pendidikan dengan mengirim siswa SMK berprestasi yang baru lulus untuk magang di pabrik mesin CNC dan laser di Tiongkok. Peserta magang sekaligus memperoleh sertifikasi resmi langsung dari pabrik.
Skema itu dinilai bisa mempercepat transfer keterampilan teknis yang selama ini jadi hambatan pengrajin Purbalingga untuk naik kelas. Pengrajin tidak hanya mendapat mesin lebih murah, tetapi juga tenaga terampil yang siap mengoperasikannya.
Anwar Abbas: Indonesia Bisa Menyusul Tiongkok
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menyebut pengalaman Tiongkok dalam membangun kekuatan ekonomi dan dunia usaha layak dipelajari Indonesia. Lima puluh tahun lalu, kata dia, Tiongkok belum menjadi kekuatan ekonomi dunia.
“Kita harus belajar dari Tiongkok. Lima puluh tahun yang lalu, Tiongkok belum menjadi apa-apa. Namun, hari ini Tiongkok telah menjadi kekuatan besar ekonomi dunia. Kami berharap Indonesia akan bisa menyusul,” ujar Anwar.
Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi yang dihadiri Fata Zaki, peserta Business Trip Serikat Usaha Muhammadiyah ke Tiongkok. Zaki berbagi pengalaman menyelami langsung ekosistem bisnis dan teknologi Negeri Tirai Bambu.
Open Trip Berikutnya Digelar Oktober–November 2026
SUMU kembali menggelar perjalanan bisnis ke Tiongkok dengan pendampingan langsung Anwar Abbas. Tersedia tiga pilihan rute yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha.
- Trip A — Canton Fair Fase 1: 14–17 Oktober 2026, fokus pada teknologi, produk, dan perdagangan internasional.
- Trip B — Yiwu Internasional: fokus pada pengadaan barang dan bahan baku langsung dari produsen.
Rizal mengajak pelaku usaha daerah ikut serta dalam perjalanan berikutnya. Ia menyebut fasilitasi itu sebagai peluang nyata untuk memajukan usaha bersama.
“Saya mengajak seluruh pelaku usaha untuk belajar ekspor dan impor yang difasilitasi SUMU dalam Open Trip Bisnis Indonesia–Tiongkok bulan Oktober nanti. Saya akan ikut lagi — karena ini peluang nyata untuk memajukan usaha kita bersama,” kata Rizal.