Pencarian

BI Ramal The Fed Naikkan FFR Lagi di Kuartal IV/2026, DXY Sentuh 101,11

Selasa, 29 September 2026 • 09:50:01 WIB
BI Ramal The Fed Naikkan FFR Lagi di Kuartal IV/2026, DXY Sentuh 101,11
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan proyeksi suku bunga The Fed dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (28/9).

JAWA BARAT — Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memproyeksikan The Fed menaikkan suku bunga acuan sekali lagi di kuartal IV/2026, setelah kenaikan 25 basis poin pada September ke kisaran 3,75-4,00%. Proyeksi itu disampaikan dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (28/9). Kenaikan lanjutan diperkirakan kembali menguatkan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

Proyeksi tersebut disampaikan Destry saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Ia menyebut ruang kenaikan The Fed masih terbuka pada tiga bulan terakhir 2026, meski belum ada kepastian soal langkah Bank Indonesia.

Menurut Destry, kenaikan Fed Funds Rate akan kembali mendorong penguatan dolar AS. Indeks dolar (DXY) tercatat mencapai 101,11, sementara indeks dolar Asia (ADXY) berada di 96,26.

Kenaikan FFR September Jadi Titik Awal Proyeksi

The Fed menaikkan FFR sebesar 25 basis poin pada pertemuan September ke kisaran 3,75-4,00%. Kenaikan itu menjadi dasar BI memperkirakan ada satu kenaikan tambahan di kuartal IV/2026.

"Belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV (2026)," kata Destry dalam rapat kerja tersebut.

Di sisi lain, Destry belum memberi jawaban pasti soal kemungkinan BI menaikkan BI-Rate di sisa 2026. Keputusan itu, menurutnya, bergantung pada kondisi perekonomian dan perubahan pasar ke depan.

"Kita lihat nanti, ya," ujar Destry kepada wartawan usai rapat kerja.

BI Hitung Dampak Kenaikan BI-Rate ke Pertumbuhan Ekonomi

Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada September, di tengah langkah The Fed menaikkan suku bunga di bulan yang sama. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan dampak ke pertumbuhan ekonomi.

Destry menjelaskan, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%. Karena itu, BI berhati-hati dalam mengubah kebijakan suku bunga acuan.

"Asesmen kami juga melihat, kalau BI-Rate naik 25 bps, maka pertumbuhan ekonomi akan turun sekitar 0,1%. Kalau kita hanya mengandalkan kenaikan ini (BI-Rate) maka ekonomi growth-nya pasti akan turun, tetapi kita kan tidak mau ini turun, sehingga kita pakailah kebijakan kita yang lain," papar Destry.

Harga Minyak dan Inflasi Global Tekan Prospek 2026

Destry tidak menampik kondisi perekonomian global 2026 cukup suram. Harga minyak dunia per 24 September mencapai US$125,53 per barel, melonjak dibandingkan rata-rata Agustus 2026 di kisaran US$90,88 per barel.

Inflasi global juga meningkat menjadi 4,6%, mendorong pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara. Kombinasi harga minyak dan inflasi menjadi faktor utama tekanan terhadap prospek ekonomi tahun ini.

Meski begitu, BI melihat kondisi akan mulai berbalik pada 2027. Sejumlah sektor dan lembaga internasional diperkirakan memperlihatkan perbaikan dibandingkan posisi 2026.

"Prospek ekonomi 2026 ini secara global itu memang agak gloomy, namun demikian di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan, dan juga dari beberapa lembaga internasional termasuk kami juga melihat bahwa 2027 ini secara global akan lebih baik dibandingkan dengan posisi di 2026," ujar Destry.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha

Bagi investor, sinyal kenaikan FFR lanjutan berarti tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan aset berdenominasi rupiah masih berlanjut. DXY di level 101,11 mencerminkan dolar AS masih kuat terhadap mata uang utama dunia.

Pelaku usaha yang punya utang dolar AS perlu mencermati risiko kenaikan biaya bunga. Sementara eksportir bisa memanfaatkan pelemahan rupiah untuk menjaga daya saing harga di pasar global.

Keputusan BI-Rate berikutnya akan menjadi penentu arah pasar obligasi dan saham perbankan. Jika BI memilih menahan suku bunga, imbal hasil obligasi cenderung stabil, tetapi tekanan kurs tetap jadi tantangan utama hingga akhir 2026.

Follow jabarviral.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: validnews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks