Pencarian

Review Jaecoo J5 EV Usai 11.000 Km: Tarikan Kencang, Ban Standar Jadi

Jumat, 14 Agustus 2026 • 12:23:31 WIB
Review Jaecoo J5 EV Usai 11.000 Km: Tarikan Kencang, Ban Standar Jadi
Aga Kurnia, pengguna Jaecoo J5 EV, membagikan pengalamannya setelah menempuh jarak lebih dari 11.000 kilometer selama tujuh bulan pemakaian.

JAWA BARAT — Kompas.com berkesempatan berbincang dengan Aga Kurnia, pengguna Jaecoo J5 EV yang sudah menempuh jarak lebih dari 11.000 kilometer dalam periode pemakaian sekitar tujuh bulan. Pengalaman jangka panjang ini mengungkap sisi-sisi mobil yang tidak terlihat dalam sesi test drive singkat—mulai dari karakter suspensi hingga konsekuensi torsi besar pada pengendalian.

Berbeda dengan kesan pertama yang biasanya hanya fokus pada desain dan fitur, pemakaian harian selama ribuan kilometer memberikan gambaran lebih jujur soal kelemahan mobil ini. Aga mengakui, ada satu hal yang cukup mengganggu ketika pedal gas diinjak dalam-dalam.

Performa 6,7 Detik: Kencang, Tapi Ban Standar Kurang Rigid

Jaecoo J5 EV menggunakan motor listrik dengan torsi besar yang disalurkan ke roda depan. Hasilnya, akselerasi 0-100 km/jam bisa dicapai dalam 6,7 detik—angka yang impresif untuk kelas SUV listrik di Indonesia.

"Rasa berkendara asyik, responsif. Performa kencang, karena torsi besar, dan nyaman karena kelas SUV," ujar Aga saat dihubungi Kompas.com.

Namun, karakter torsi instan ini punya konsekuensi. Saat akselerasi dilakukan secara spontan, bagian depan mobil terasa terangkat. Menurut Aga, ban standar dengan kembangan halus menjadi kurang rigid saat momen tersebut terjadi.

"Ground clearance tinggi dan besar, bantingan enak dan mantap. Tapi, ya karena torsi besar penggerak depan, jadi ada minusnya. Sewaktu gas dinjak, jadi agak mengangkat bagian depan," jelas Aga.

Catatan ini penting bagi calon pembeli yang sering berkendara agresif di jalan tol. Upgrade ban ke tipe dengan compound lebih lengket atau profil lebih lebar bisa menjadi solusi, meski tentu menambah biaya kepemilikan.

Suspensi MacPherson: Empuk untuk Harian, Sedikit Limbung di Kecepatan

Untuk urusan kenyamanan, J5 EV memakai suspensi depan MacPherson yang karakternya dinilai empuk oleh Aga. Ini kabar baik untuk pengguna yang setiap hari melewati jalan rusak atau polisi tidur.

"Kalau suspensi sudah pakai McPherson, jadi sudah enak, nyaman, dan empuk. Kadang agak sedikit limbung, tapi secara keseluruhan nyaman suspensinya buat SUV," kata Aga.

Konsekuensi dari suspensi empuk adalah body roll yang sedikit terasa saat bermanuver di kecepatan tinggi. Buat pengemudi yang mengutamakan kenyamanan keluarga, karakter ini justru ideal. Tapi buat yang suka berkendara sporty, perlu kompromi.

Konsumsi Daya: Irit atau Boros Tergantung Kaki Kanan

Seperti hampir semua mobil listrik, efisiensi Jaecoo J5 EV sangat bergantung pada gaya berkendara. Aga menegaskan, tidak ada angka magis yang bisa dijadikan patokan—semuanya kembali ke kebiasaan pengemudi.

"Kalau masalah daya, sepertinya hampir semua mobil sama, baik ICE atau EV. Kalau jalan santai, ya irit. Tapi, kalau mainnya kecepatan dan injak gas, ya agak cepat penurunannya," ujar Aga.

Buat pengguna yang sehari-hari macet di kota besar, fitur one-pedal driving atau regenerative braking bisa membantu memperpanjang jarak tempuh. Namun, Aga tidak menyebutkan angka konsumsi energi spesifik dalam kWh per 100 km—jadi calon pembeli sebaiknya melakukan tes sendiri sesuai rute harian.

16 Fitur ADAS: Kamera 540 Derajat Paling Berguna

Kelengkapan fitur bantuan berkendara menjadi salah satu nilai jual utama J5 EV. Dari total 16 fitur ADAS, Aga menilai hampir semuanya berfungsi baik dalam kondisi lalu lintas Indonesia.

"Fitur di J5 ada 16 ADAS, kayaknya hampir semua berguna, baik yang bisa menyetir sendiri pas macet. Electronic Stability Control (ESC) berguna banget, ABS juga, apalagi kamera 540," kata Aga.

Kamera 540 derajat menjadi fitur favorit, terutama saat melewati jalan sempit atau parkir di area padat. Pandangan luas ke sekitar kendaraan mengurangi risiko senggolan dengan objek di blind spot.

Biaya Servis Murah, Tapi Depresiasi Harga Bekas Jadi Kekhawatiran

Salah satu keuntungan terbesar memiliki mobil listrik adalah biaya perawatan yang jauh lebih sederhana dibanding mobil bermesin bensin. Aga mengungkapkan, servis berkala cukup dilakukan setahun sekali dengan biaya yang relatif kecil.

"Enggak ada ganti oli yang setiap 3 bulan. Kalau di EV cuma perawatan dalam setahun ya kaki-kaki atau update software aja, dan murah," jelas Aga.

Namun, Aga juga jujur soal kekhawatiran terbesar pemilik mobil listrik: nilai jual kembali. Setelah garansi habis, harga bekas EV diperkirakan jatuh cukup dalam. Aga menilai hal ini wajar dan sebanding dengan penghematan biaya perawatan selama masa pemakaian.

"Jadi, kalau harga bekasnya murah, jadi sebanding lah sama pengeluaran per tahunnya. Kalau mobil ICE bisa tinggi, karena pengganti servis selama pemakaian," pungkas Aga.

Kesimpulan: Cocok untuk Pengguna Harian yang Siap Kompromi

Setelah 11.000 kilometer, Jaecoo J5 EV terbukti sebagai SUV listrik yang nyaman, kencang, dan kaya fitur. Biaya operasionalnya rendah, fitur keselamatannya lengkap, dan suspensinya empuk untuk kondisi jalan Indonesia.

Namun, calon pembeli harus sadar dua hal: ban standar kurang ideal untuk akselerasi agresif, dan nilai jual kembali akan jauh lebih rendah dibanding mobil ICE sekelas. Buat yang mencari mobil listrik keluarga dengan fitur terlengkap di kelasnya, J5 EV layak masuk daftar pendek. Buat yang sering berkendara sporty atau berencana menjual mobil dalam 3-5 tahun, pertimbangkan lagi.

Follow jabarviral.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: otomotif.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks