BEKASI — Ketergantungan petani Desa Cicau pada mesin pompa berbahan bakar minyak (BBM) dan musim hujan perlahan berakhir. PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Bekasi menghadirkan sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 VA yang terintegrasi dengan pompa irigasi, mengubah lahan tadah hujan menjadi sawah yang produktif sepanjang tahun.
Sebelumnya, warga yang berada di sekitar jalur SUTET 500 kV Cibatu–Deltamas ini hanya mampu bertani dua kali setahun. Kini, frekuensi tanam meningkat 50 persen menjadi tiga kali panen, dengan rata-rata tambahan pendapatan petani mencapai Rp 12 juta per tahun.
Dampak ke Petani: Biaya Turun, Produktivitas Naik
Perubahan paling dirasakan adalah efisiensi operasional. Penggunaan pompa listrik menggantikan mesin BBM memangkas konsumsi bahan bakar hingga 2.560 liter setiap tahunnya.
Selain irigasi, PLN juga melengkapi kelompok tani dengan dua unit traktor listrik, mesin perontok padi, serta mesin pemotong rumput. Fasilitas penunjang seperti saung petani berinstalasi listrik, bibit padi dan cabai, hingga pelatihan pemasaran produk turut diberikan.
Pengakuan Petani: Air Mengalir Tanpa Henti
Masum, petani sekaligus Local Hero Kelompok Tani Berkah Sakabeh, menuturkan ketersediaan air kini tidak lagi bergantung pada musim.
"Dulu kami harus membeli BBM untuk menjalankan pompa air dan tetap bergantung pada musim. Sekarang air tersedia kapan saja karena menggunakan listrik. Biaya operasional jauh lebih hemat, pekerjaan lebih cepat, dan kami bisa menanam tiga kali dalam setahun. Pendapatan petani juga meningkat sekitar Rp 12 juta setiap tahun," ujarnya.
Komitmen PLN dan Target Perluasan Program
Manager PLN UPT Bekasi, Indra Kurniawan, menyebut program ini membuktikan energi punya peran strategis dalam sektor produktif. Konsumsi listrik dari program ini mencapai 11.994 kWh per tahun, berkontribusi pada penjualan tenaga listrik sekitar Rp 4,78 juta.
"Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, serta memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," katanya.
Sepanjang 2025–2026, PLN UIT Jawa Bagian Tengah menjalankan empat program Electrifying Agriculture. Dua program tahun 2025 telah menjangkau 76 penerima dari Kelompok Tani Berkah Sakabeh dan Kelompok Tani Jayawangi. Dua program lainnya pada 2026 tengah berjalan dengan melibatkan 20 anggota kelompok tani.
Inisiatif ini selaras dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya pilar tanpa kelaparan, energi bersih, pekerjaan layak, dan penanganan perubahan iklim. Modernisasi pertanian berbasis listrik ini menjadi contoh konkret pengurangan emisi karbon dari sektor agrikultur.