GARUT — Kabupaten Garut menambah 15 ribu hektare lahan khusus penanaman jagung dari total 60 ribu hektare lahan ketahanan pangan yang dikelola saat ini. Penambahan itu melengkapi 12 ribu hektare lahan yang disiapkan terpisah untuk budidaya singkong, sehingga total lahan yang disiapkan mencapai 27 ribu hektare.
Langkah tersebut menyusul rapat koordinasi Program Khusus Pemerintah untuk Bioethanol di kawasan Pengadegan Selatan, Jakarta Selatan. Garut selama ini dikenal sebagai pemasok utama jagung di Jawa Barat, sehingga dinilai punya basis produksi yang memadai untuk diserap industri energi terbarukan.
Peluang Pabrik Bioetanol dan Singkong dari Pemerintah Pusat
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengungkapkan bahwa pemerintah pusat membuka peluang investasi pembangunan pabrik pengolahan bioetanol dan pabrik singkong di wilayahnya. Kehadiran kedua fasilitas itu diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus solusi penyerapan tenaga kerja.
"Kami mendapatkan informasi bahwa ada peluang bagi kami untuk dibangunkan pabrik bioethanol dan juga pabrik singkong, sehingga masyarakat Garut lebih bersemangat lagi untuk menanam singkong dan jagung dan ujungnya adalah meningkatkan ketahanan energi," kata Syakur.
Rantai Pasok Hulu ke Hilir Diperkirakan Serap Ribuan Tenaga Kerja
Penyerapan tenaga kerja lokal menjadi poin utama yang disoroti Pemkab Garut. Rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai dari budidaya hingga pengolahan di pabrik, diperkirakan menyerap ribuan tenaga kerja baru di daerah.
"Dan satu hal lagi tadi, disampaikan ini akan mendukung kami untuk penyerapan tenaga kerja. Nah ini kami sangat mendukung dan berharap bahwa ini bisa terealisasi dan sekali lagi terimakasih Pak Menteri, Pak Sekneg dan juga Pak Presiden, yang sudah mengerti apa yang kami butuhkan," ujar Syakur.
Kawasan Perhutanan Jadi Opsi Jika Lahan Kurang
Mengenai ketersediaan lahan, Pemkab Garut menyatakan siap memanfaatkan skema pemanfaatan kawasan perhutanan yang diizinkan pemerintah pusat untuk program ketahanan pangan dan energi. Jika alokasi lahan yang ada masih memadai, koordinasi lanjutan dengan lintas kementerian akan segera ditempuh.
"Tentu saja harus optimisme, tadi kami dikumpulkan dan akan diberikan kemudahan-kemudahan termasuk salah satu juga tadi mengenai kawasan perhutanan untuk ketahanan pangan, juga itu adalah program pemerintah pusat sehingga walaupun kurang nanti akan kami diskusikan dengan Kementerian Kehutanan," tutur Syakur.
Modal Sosial Petani Garut dan Target Transisi Energi
Syakur optimistis target pasokan bahan baku dapat terpenuhi. Tradisi bercocok tanam jagung yang melekat erat pada kultur petani Garut menjadi modal sosial mendasar bagi keberhasilan program strategis nasional ini.
Dukungan pemerintah pusat melalui kemudahan regulasi dan penyediaan infrastruktur pengolahan diharapkan mempercepat transisi Garut dari sekadar produsen pangan menjadi hub energi terbarukan berbasis pertanian di Jawa Barat.