BANDUNG — Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Jawa Barat mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah sebagai strategi pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan pelaku usaha lokal. Plt Kepala Kanwil Kemenhaj Jabar Boy Hary Novian menyebut potensi perputaran uang dari sektor ini sangat besar, mengingat setiap tahun sekitar 630 ribu warga Jabar berangkat umrah dan haji reguler. Pihaknya mendorong travel dan kelompok bimbingan ibadah agar melibatkan UMKM lokal untuk memasok kebutuhan jamaah.
Potensi Ekonomi yang Belum Tergarap Maksimal
Boy Hary Novian di Bandung, Minggu, mengatakan selama ini triliunan rupiah uang jamaah habis dibelanjakan di Arab Saudi. Padahal produk seperti sajadah, tasbih, perlengkapan ibadah, hingga kebutuhan pangan bisa dipasok dari dalam negeri.
“Kami dari Kanwil Kemenhaj Jabar akan mendorong para stakeholder penyelenggara haji dan umrah seperti travel, PPIU, dan KBIH agar memanfaatkan dan melibatkan usaha masyarakat lokal,” ujarnya.
Kewajiban Pasok Bahan Pangan dari Indonesia
Pemerintah kini mewajibkan komponen konsumsi jamaah di Tanah Suci, seperti beras dan bumbu-bumbuan, harus dipasok langsung dari Indonesia. Kebijakan ini membuka peluang besar bagi petani dan pelaku UMKM pangan di Jawa Barat.
Boy mengharapkan penguatan ekosistem ini mengubah persepsi bahwa ibadah haji dan umrah hanya memberikan manfaat personal. “Melalui program ini, kita ingin ibadah tersebut memberikan dampak dan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Angka Jamaah Jabar: 400-600 Ribu Umrah Plus 30 Ribu Haji Reguler
Setiap tahun, jumlah masyarakat Jawa Barat yang melaksanakan ibadah umrah diperkirakan mencapai 400 ribu hingga 600 ribu orang. Ditambah sekitar 30 ribu jamaah haji reguler, potensi perputaran uang dari sektor ini sangat besar.
Kemenhaj Jabar mengimbau kepada jamaah ke depan agar memprioritaskan membeli oleh-oleh di Indonesia. Langkah ini dinilai mampu memperkuat perekonomian masyarakat di daerah, bukan hanya di luar negeri.
Kolaborasi dengan Travel dan KBIH Jadi Kunci
Sinergi antara pemerintah, penyelenggara perjalanan ibadah, pelaku UMKM, serta masyarakat menjadi kunci penguatan rantai ekonomi haji dan umrah. Kemenhaj Jabar siap berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar aktivitas ekonomi dari sektor tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Mengingat selama ini triliunan rupiah uang jamaah habis dibelanjakan di Arab Saudi, padahal produk-produk, seperti sajadah, tasbih, hingga kebutuhan pangan dipasok dari negara luar. Kita ingin ke depan ekosistem ekonomi haji di daerah kita benar-benar berjalan konsisten dan menguntungkan masyarakat kita,” kata Boy.