BEKASI — Rumah kontrakan sederhana di kawasan Rawalumbu, Bekasi, menjadi titik awal evakuasi Heru Baskoro. Pria 84 tahun itu, yang merupakan putra kandung Sayuti Melik—tokoh pengetik naskah Proklamasi—kini ditempatkan di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) setelah kisah hidupnya yang berbalik drastis dari kehidupan mapan di luar negeri menjadi perhatian publik.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mendatangi STPL pada Kamis (16/7/2026) untuk memastikan langsung kondisi Heru dan istrinya, Treyzia Noviani (65). Keduanya terlihat nyaman di tempat penampungan sementara tersebut.
Kondisi Kesehatan: Mata Kanan Mulai Buta, Butuh Pengobatan Intensif
Heru diketahui baru kembali ke Indonesia pada 2024 setelah lebih dari dua dekade hidup di Kanada. Ia sempat bekerja sebagai staf senior di perusahaan minyak dan memiliki status penduduk tetap di Amerika Serikat. Namun, kondisi kesehatannya memburuk drastis setelah pulang kampung.
"Untuk sementara Pak Heru dan Ibu tinggal di sini, akan ada bantuan medis dan psikososial, sehingga pak Heru jika butuh sesuatu bisa bilang ke staf disini, disini ada dokter juga," ujar Agus Jabo saat meninjau lokasi.
Gangguan pada mata kanan menjadi penyebab utama penurunan kualitas hidup Heru. Penglihatannya terus memburuk dan membutuhkan penanganan medis yang tidak bisa ia peroleh di rumah kontrakan.
Bantuan yang Diterima: Tempat Tinggal, Kebutuhan Harian, hingga Pendampingan
Selama menjalani masa pendampingan di STPL, pasangan suami-istri ini mendapatkan tempat tinggal sementara yang layak. Kementerian Sosial juga memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka secara penuh.
Wamensos Agus Jabo memastikan kenyamanan keduanya sebelum meninggalkan lokasi. "Sementara disini nyaman?" tanya Agus Jabo. "Nyaman, Senang," jawab Treyzia. "Pak Heru juga senang disini?" "Senang," ucap Heru singkat.
Langkah Selanjutnya: Kemensos Jadi Penghubung Dana Pensiun dan Pengobatan
Kementerian Sosial tidak hanya menyediakan tempat tinggal sementara. Agus Jabo menegaskan bahwa pihaknya akan menjadi penghubung antara Heru dengan berbagai instansi terkait, termasuk untuk mengurus dana pensiun yang mungkin belum tersalurkan dan biaya pengobatan mata secara berkelanjutan.
"Kami akan koordinasikan dengan keluarga dan pihak-pihak terkait agar Pak Heru mendapat penanganan terbaik," kata Wamensos. Proses ini melibatkan pendampingan psikososial agar Heru dan istrinya bisa beradaptasi dengan kondisi baru mereka di Indonesia setelah puluhan tahun tinggal di luar negeri.