BANJAR — Sebanyak 100 cangkir dan 50 unit kempis air atau tempat air mampu diproduksi Yayan Sutisna setiap harinya. Produk berbahan dasar limbah alam itu menjadi primadona lantaran memiliki nilai estetika dan fungsional yang tinggi.
Pria yang tinggal di Dusun Pasirnagara, RT 13, RW 03, Desa Cibeureum ini mengaku mulai menggeluti usaha kerajinan sejak 2013. Awalnya, ia melihat banyak limbah alam di sekitarnya yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Awalnya di sini banyak limbah. Bahan baku kita dari limbah alam batok kelapa, labu sama bambu,” kata Yayan kepada Harapan Rakyat, Sabtu (1/8/2026).
Kempis Air dan Cangkir Jadi Produk Paling Laris
Dari berbagai jenis produk yang dihasilkan, kempis air dan cangkir berbahan batok kelapa menjadi yang paling banyak diminati pelanggan. Untuk meningkatkan kualitas, Yayan menggunakan cairan pewarna khusus agar produk lebih mengilap sekaligus menghilangkan bau khas bahan alam.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi tergantung model dan tingkat kerumitan pembuatan. “Untuk kantong dari buah labu itu sekitar Rp45 ribu satu pieces. Kalau kempis air tergantung model, tapi rata-rata kisaran Rp25 ribu,” ujarnya.
95 Persen Pemasaran Lewat Online, Sampai ke Papua
Strategi pemasaran Yayan kini bertumpu pada platform digital dan e-commerce. Cara ini dinilainya sangat efektif untuk memperluas jangkauan pasar di luar Kota Banjar.
“Kita 95 persen pemasaran melalui online. Kadang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur ada. Paling dari Papua ada. Pernah juga ke Amerika dan Jerman,” pungkasnya.
Ke depan, Yayan berharap usaha kerajinan berbahan limbah alam ini terus berkembang. Ia optimistis produknya mampu menembus pasar yang lebih luas lagi seiring meningkatnya permintaan terhadap produk ramah lingkungan.