Pencarian

Wayang Jawa Barat Beradaptasi dengan AI, Dosen NHI Bandung: Bukan Ancaman Tapi Peluang Peradaban Budaya Berkelanjutan

Rabu, 15 Juli 2026 • 19:05:31 WIB
Wayang Jawa Barat Beradaptasi dengan AI, Dosen NHI Bandung: Bukan Ancaman Tapi Peluang Peradaban Budaya Berkelanjutan
Dr. Wawan Gunawan, dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, menyampaikan pandangannya mengenai kecerdasan buatan dalam konteks seni wayang di Jawa Barat.

BANDUNG — Perdebatan mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap seni tradisional kembali mengemuka di kalangan pegiat budaya Jawa Barat. Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, Dr. Wawan Gunawan, dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, justru melihatnya sebagai momentum bagi wayang untuk berevolusi tanpa kehilangan jati diri.

"Setiap kemajuan teknologi selalu memunculkan dua reaksi yang berjalan beriringan: harapan dan ketakutan. Namun, persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kehadiran AI itu sendiri," ujar Wawan dalam keterangan yang diterima di Bandung, belum lama ini.

Wayang Telah Melewati Revolusi Teknologi Sebelumnya

Menurut Wawan, sejarah peradaban telah membuktikan bahwa setiap revolusi teknologi tidak pernah mematikan seni. Mesin cetak tidak membunuh sastra, kamera tidak menghapus seni lukis, dan televisi tidak mematikan teater.

"Wayang tumbuh dari tradisi lisan menuju naskah tertulis, dari penerangan blencong menuju lampu listrik dan sistem pencahayaan modern, dari panggung desa hingga ruang pertunjukan digital yang melintasi batas negara," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa yang harus dijaga bukan semata-mata bentuk pertunjukan, melainkan nilai-nilai filosofis, etika, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan melalui setiap lakon dan tokoh wayang.

Indonesia Jadi Percontohan Tata Kelola AI Etis Versi UNESCO

Wawan merujuk pada hasil Artificial Intelligence Readiness Assessment Methodology (AI RAM) yang diselesaikan UNESCO bersama Pemerintah Indonesia. Penilaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang mengukur kesiapan nasional dalam membangun tata kelola AI yang etis, inklusif, transparan, dan bertanggung jawab.

"Laporan AI RAM Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan setiap bangsa membangun regulasi dan menjaga keberagaman budaya," ucap Wawan.

UNESCO, lanjutnya, menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber daya strategis yang mampu memperkuat identitas masyarakat dan memperluas ekonomi kreatif.

AI Bukan Pengganti Dalang, Tapi Alat Kreativitas Baru

Wawan menekankan bahwa AI kini mampu melukis, menggubah musik, menulis cerita, hingga menciptakan karakter visual dalam hitungan detik. Namun, kemampuan tersebut justru bisa menjadi peluang bagi pegiat wayang untuk mengeksplorasi medium ekspresi budaya yang lebih luas.

"Perubahan bukanlah ancaman bagi wayang, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kehidupannya. Yang harus dijaga adalah nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan melalui setiap dialog wayang," pungkasnya.

Dengan pendekatan human-centered AI yang diadopsi 193 negara anggota UNESCO, Wawan optimistis wayang dapat beradaptasi menuju peradaban budaya yang berkelanjutan di tengah gelombang Revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0.

Follow jabarviral.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: koranmandala.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks