CIREBON — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Pabedilan menyoroti dua persoalan mendasar yang membayangi kualitas pendidikan di wilayahnya: fasilitas sekolah yang belum merata dan kesiapan guru menghadapi disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ketua PGRI Cabang Pabedilan, Wahyudi, mengakui bahwa secara umum kondisi pendidikan di Kecamatan Pabedilan menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari raihan prestasi siswa di tingkat kabupaten dan semangat para pengajar untuk terus berinovasi.
“Sebagai Ketua PGRI Cabang Pabedilan, saya melihat bahwa kondisi pendidikan di Kecamatan Pabedilan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Terbukti dengan adanya siswa-siswi yang menjadi juara lomba di tingkat kabupaten,” ujarnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, Wahyudi menekankan bahwa sejumlah sekolah masih bergulat dengan masalah infrastruktur. Keterbatasan sarana penunjang belajar menjadi hambatan yang tak bisa diabaikan.
Guru Dituntut Kreatif di Tengah Keterbatasan Sarana
Persoalan fasilitas ini, menurut Wahyudi, beririsan langsung dengan tantangan baru yang dihadapi tenaga pendidik. Para guru tidak hanya dituntut untuk profesional dalam mengajar, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Guru juga berjuang dalam tantangan dalam membentuk karakter siswa di tengah pengaruh perkembangan zaman yang begitu cepat. Apalagi saat ini kita unggul pada perkembangan teknologi AI yang sangat pesat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehadiran AI di dunia pendidikan bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi. Tanpa pelatihan dan pendampingan yang memadai, guru berisiko tertinggal dan gagal memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran.
Pelatihan Berkelanjutan dan Sinergi Tiga Pilar
Untuk menjawab tantangan itu, Wahyudi mendorong agar pemerintah daerah memberikan pelatihan yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan zaman. Program peningkatan kompetensi guru harus dirancang khusus, bukan sekadar seminar seremonial.
“Sinergi antara guru, orang tua, dan masyarakat juga harus diperkuat agar terciptanya lingkungan belajar yang kondusif,” tambahnya.
Ia mengajak semua pemangku kepentingan untuk menjaga komitmen dalam memajukan pendidikan. Menurutnya, kesejahteraan guru juga menjadi faktor krusial yang tak boleh dilupakan agar tenaga pendidik bisa bekerja secara optimal.
Wahyudi berharap pendidikan di Kecamatan Pabedilan ke depan semakin merata dan berkualitas serta mampu menghadapi tantangan zaman. “Harapannya kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan nilai persahabatan yang kuat,” tutupnya.