JAWA BARAT — Semua berawal dari ayah dan ibu Nurlaela yang merantau dari Malangbong, Garut, ke Jakarta. Mereka membuka gerobak batagor di depan PLN Depok. Pelanggan, terutama mahasiswa UI, yang memberi nama "Batagor Gembira" karena mereka merasa gembira setelah menyantapnya.
Nurlaela, anak kedua dari tujuh bersaudara, mulai dilibatkan pada 2011. Saat itu sang ayah mulai sibuk bepergian. "Saya mulai dilibatkan saat bapak bepergian atau kemana-mana. Bapak memulai usaha Batagor ini di tahun 1984 di PLN Depok," kenang Nurlaela.
Titik Balik: Saat Sang Ayah Naik Haji
Momen penting terjadi pada 2017. Saat ayahnya berangkat haji, Nurlaela dan suami diberi amanat penuh untuk meneruskan usaha. Sebelumnya, mereka sempat bekerja sebagai karyawan kantoran.
"Kami sempet kerja dulu, tapi kok rasanya untuk memenuhi kebutuhan bulanan saat itu enggak sampai-sampai. Enakkan usaha kayaknya, dapatnya bisa setiap hari," ujar Nurlaela. Keputusan itu tepat. Usaha mereka terus berkembang.
Ekspansi ke Berbagai Titik, Buka 24 Jam
Kini Batagor Gembira tak lagi hanya di satu tempat. Mereka memiliki gerobak di Jalan Flamboyan, Jalan Dadap, Jalan Majapahit, Jalan Angin Mamiri, dan SD Bina Insani. Gerobak kedua mereka buka sejak 2007 di samping TipTop, Jalan Tole Iskandar, Mekar Jaya, Sukmajaya, Depok.
Gerobak di PLN Depok bahkan buka 24 jam tanpa libur, termasuk saat Lebaran. "Puncak ramainya itu 2 minggu setelah Lebaran, istilah kami meraup uang karena di momen itu orang jualan jarang tapi yang beli justru lagi banyak uang," canda Nurlaela. Setiap hari, tak kurang dari 200 porsi terjual dengan harga rata-rata Rp15.000 per porsi.
Dari hasil usahanya, keluarga Nurlaela yang semula mengontrak kini sudah memiliki rumah sendiri. Mereka juga mempekerjakan 12 karyawan yang mayoritas berasal dari Garut, Banten, dan Bogor.
Pesanan Online dan Acara Besar
Selain jualan di gerobak, Batagor Gembira juga melayani pesanan online via Grabfood. Pesanan dalam bentuk kemasan bahan mentah untuk dijual kembali nilainya bisa mencapai Rp300-600 ribu sekali pesan. Sesekali mereka juga menerima pesanan siomay untuk acara pernikahan.
Sri (39), pegawai TipTop yang jadi langganan, mengaku tak pernah melewatkan makan siang di Batagor Gembira. "Karena rasanya enak, bumbunya otentik, segar dan pedasnya pas," katanya.
Pelajaran bagi yang Ingin Merintis
Kesuksesan Batagor Gembira menarik minat banyak orang. Sunarya menceritakan, banyak yang datang ke rumah untuk belajar berjualan batagor. Namun, tak semua bertahan.
"Paling cobaannya itu, kan namanya jualan enggak mungkin selalu ramai setiap hari. Kebanyakan pada enggak kuat di situ. Pernah waktu itu ada yang datang dari Garut belajar dari pagi sampai malam, bolak-balik selama 6 bulan belanja bahan. Eh ternyata di perjalanan berhenti, tidak kuat," ujar Sunarya.
Kisah Batagor Gembira membuktikan bahwa usaha kecil bisa bertahan puluhan tahun jika dijalani dengan konsisten. Dari satu gerobak di depan kantor BUMN, kini mereka menjadi pemain yang diperhitungkan di Depok.