JAWA BARAT — Forum BRICS menjadi panggung bagi Indonesia untuk melontarkan kritik terhadap negara maju yang dinilai abai terhadap krisis iklim. Jumhur Hidayat menekankan bahwa pengelolaan sumber daya alam, pencegahan degradasi lingkungan, dan pembangunan ketahanan iklim adalah penentu keberlanjutan pembangunan global.
Kontribusi Emisi Besar tanpa Aksi Nyata
Jumhur menilai sejumlah negara dengan kekuatan ekonomi besar justru mundur dari komitmen kolektif. Padahal, kata dia, sumbangan emisi negara-negara tersebut terhadap polusi dunia masih signifikan.
"Oleh karena itu, bagi Indonesia, adaptasi iklim bukanlah agenda pinggiran. Ini adalah pilar utama pembangunan berkelanjutan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita," ujar Jumhur dalam pertemuan yang dihadiri 10 dari 11 negara anggota BRICS tersebut.
Indonesia di Garis Depan Krisis Iklim
Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau menjadikannya rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem. Lebih dari 60 persen penduduk Indonesia bermukim di wilayah pesisir, sehingga dampak bencana terkait iklim berpotensi menggerus mata pencaharian dan mendorong kelompok rentan kembali ke jurang kemiskinan.
Meski menghadapi ancaman besar, Indonesia datang ke forum tersebut dengan membawa bukti kekayaan alam yang perlu dijaga. Jumhur memaparkan data bahwa Indonesia memiliki lebih dari 300 ribu spesies yang diketahui, termasuk 9,7 persen tumbuhan berbunga dunia, 14 persen mamalia, 18,6 persen burung, dan 23 persen hutan mangrove dunia.
Rencana Adaptasi Nasional dan Visi 2045
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah telah memberlakukan Rencana Adaptasi Nasional 2026-2030. Dokumen ini menjadi peta jalan menuju ketahanan iklim yang sekaligus mendukung target Visi Indonesia Emas 2045.
Jumhur menyebut kebijakan tersebut bukan sekadar dokumen teknis, melainkan strategi untuk mengamankan kemakmuran nasional dalam jangka panjang.
Kearifan Lokal sebagai Solusi Global
Dalam forum dua hari itu, delegasi Indonesia juga mempromosikan praktik tradisional sebagai bagian dari solusi lingkungan. Jumhur mengangkat sistem irigasi Subak di Bali, Sasi Lompa di Maluku, dan Awig-Awig di Bali sebagai contoh pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat yang telah teruji waktu.
"Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga alat yang ampuh untuk adaptasi dan ketahanan iklim," tuturnya.
Delegasi Indonesia dalam pertemuan tersebut terdiri dari jajaran Kementerian Lingkungan Hidup serta perwakilan KBRI New Delhi.