BANDUNG — KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyerahkan tongkat komando Kostrad kepada Letjen TNI Iwan Setiawan, menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar. Kostrad merupakan kekuatan pemukul strategis utama TNI AD yang dituntut selalu siap digerakkan kapan pun kedaulatan negara terancam. Iwan bukan sosok asing bagi korps tempur itu.
Iwan lahir di Soreang, Kabupaten Bandung, 15 Februari 1968. Ia menempuh pendidikan di Akademi Militer dan lulus pada 1992, seangkatan dengan Jenderal Maruli Simanjuntak. Setelah lulus, kariernya berjalan di jalur komando, dimulai dari Kopassus.
Alumnus Akmil 1992 itu tidak pernah ragu berada di garis depan. Jabatan strategis yang pernah diembannya antara lain Danjen Kopassus pada 2022–2023, Pangdam XII/Tanjungpura pada 2023–2024, dan Danpussenif TNI AD pada 2025–2026.
Kisah legendaris Iwan bermula pada 1997, ketika ia masih berpangkat Letnan Satu dan baru menyelesaikan pendidikan komando Kopassus. Tanpa pengalaman mendaki gunung, ia lolos seleksi Ekspedisi Everest 1997 yang digagas Danjen Kopassus saat itu, Mayjen TNI Prabowo Subianto.
Prabowo menitipkan misi: menjadikan Indonesia negara Asia Tenggara pertama yang menancapkan bendera di puncak tertinggi dunia. Sadar misi itu mengancam nyawa, Iwan meminta izin khusus untuk menikahi kekasihnya sebelum berangkat ke Nepal.
Di zona kematian Gunung Everest, pada ketinggian di atas 8.500 meter, badai salju ekstrem melanda. Suhu merosot hingga minus 50 derajat Celsius, oksigen menipis, dan logistik habis.
Iwan dan timnya bertahan tanpa makan selama tiga hari. Kondisinya begitu kritis hingga ia nyaris kehilangan kesadaran.
"Saya terpaksa memakan kembali muntahan saya sendiri untuk mempertahankan sisa energi agar tidak mati karena hipotermia," kenang Iwan dalam sebuah perbincangan podcast di Kompas.com.
Pada 26 April 1997, bersama Sersan Misirin dan Pratu Asmujiono, Iwan berdiri di puncak Everest dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Rombongan sempat dikira tewas di atas sana sebelum akhirnya turun dengan selamat. Presiden Soeharto mengundang mereka ke Istana Negara.
Ketangguhan yang ditempa di Everest terbawa dalam setiap penugasan. Saat menjabat Danrem 173/Praja Vira Braja di Papua pada 2020–2021, Iwan memimpin pasukannya langsung ke daerah rawan saat Intan Jaya mencekam akibat teror Kelompok Kriminal Bersenjata.
Di Hitadipa, rombongannya dihadang dan terlibat kontak tembak mendadak dengan KKB. Peluru mendesing di sekitarnya. Merespons peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya itu, Iwan berujar:
"Bahwa saya seorang jenderal pun risikonya sama dengan Prada (Prajurit Dua) di lapangan."
Kini Iwan memegang tongkat komando Kostrad di bawah kepemimpinan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak. Kostrad menuntut kesiapan operasional penuh setiap saat. Bagi Iwan, tantangan memimpin ratusan ribu prajurit itu barangkali sama terjalnya dengan lereng es Everest yang pernah ia taklukkan.