JAWA BARAT — Disney sedang serius membangun ulang posisinya di industri game. Dalam pernyataan resmi yang dirilis jelang D23, Sean Shoptaw, kepala Disney Games, membeberkan bahwa pendapatan konsumen tahunan divisi ini stabil di angka US$3,5 miliar selama empat tahun terakhir. Bahkan, pada tahun fiskal terakhir, angkanya menembus US$4 miliar—atau setara Rp64 triliun.
Angka tersebut diraih dari sembilan waralaba yang masing-masing menyentuh US$1 miliar di penjualan ritel. Menariknya, lebih dari separuh waralaba itu baru lahir dalam 12 tahun terakhir. Ini sinyal bahwa Disney tidak lagi bergantung pada properti lama, melainkan aktif membangun ekosistem game baru.
Shoptaw menegaskan bahwa pendekatan Disney terhadap game telah berubah total. Era 90-an dan awal 2000-an yang identik dengan game adaptasi film dianggap sudah usang. Kini fokus mereka adalah menciptakan cerita orisinal yang lahir dari medium game itu sendiri.
"Jadi, ini tentang menceritakan kisah-kisah yang benar-benar orisinal dan unik untuk medium ini," ujar Shoptaw. Ia mencontohkan Marvel's Wolverine sebagai representasi ambisi tersebut—bukan sekadar produk turunan film, melainkan entitas naratif yang berdiri sendiri.
Taruhan terbesar Disney saat ini ada pada kemitraan strategisnya dengan Epic Games. Disney telah mengucurkan investasi lebih dari US$1,5 miliar ke perusahaan di balik Fortnite itu. Kolaborasi ini bukan sekadar menaruh skin karakter, melainkan membangun dunia persisten yang menyatukan seluruh properti Disney.
"Apa yang Epic bangun dengan Fortnite telah menciptakan salah satu platform hiburan sosial terpenting di dunia," kata Shoptaw. "Kami melihat banyak peluang untuk membawa karakter, cerita, dan dunia kami ke dalam universum itu dan membangun sesuatu yang benar-benar unik bagi Disney."
Ambisi itu disebutnya sebagai "sesuatu yang transformasional"—ruang di mana orang bisa bermain, menonton, dan berkreasi dalam satu universum Disney yang terhubung. Kolaborasi The Simpsons yang sudah berjalan di Fortnite disebut sukses, dan laporan menyebut Disney sedang menyiapkan konten berikutnya yang bergaya Arc Raiders.
CEO Disney yang baru, Josh D'Amaro, disebut sebagai pendukung besar sektor game. Ia melihat game sebagai mesin pertumbuhan berikutnya perusahaan, terutama setelah harga saham Disney cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir. Sebagian analis bahkan berspekulasi Disney bisa saja mengakuisisi Epic Games sepenuhnya, meski hingga kini belum ada realisasi.
Perjalanan Disney di industri game tidak selalu mulus. Mereka pernah memiliki studio internal bernama Disney Interactive Studios yang memproduksi seri Disney Infinity. Sayangnya, unit tersebut ditutup dan Disney beralih ke model lisensi. Mantan CEO Bob Iger pernah blak-blakan mengakui kelemahan internal tersebut, "Kami tidak pernah terlalu bagus..." dalam hal memproduksi dan menerbitkan game sendiri.
Dengan struktur baru yang mengandalkan mitra seperti Epic Games dan studio eksternal, Disney tampaknya menemukan formula yang lebih stabil. Bagi gamer Indonesia yang mengikuti Fortnite atau menantikan Marvel's Wolverine, arah strategi ini berarti lebih banyak konten lintas alam semesta yang akan hadir dalam beberapa tahun ke depan.