BANDUNG — Data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat menempatkan tiga kabupaten Pantura sebagai penopang utama pasokan beras daerah dan nasional. Indramayu memuncaki daftar dengan produksi 1,58 juta ton GKG, disusul Karawang (11,68 persen) dan Subang (10,71 persen).
Dominasi wilayah utara itu tak menggeser fakta lain: pertumbuhan produksi paling agresif justru berasal dari selatan Jawa Barat. Sekretaris DTPH Jabar Yanti Hidayatun Zakiah mengungkapkan, Kabupaten Sukabumi membukukan kenaikan produksi GKG sebesar 193.271 ton dari tahun sebelumnya, sehingga total produksinya menembus 660.107 ton GKG.
"Secara kontribusi volume total, Indramayu memang paling besar. Namun jika dilihat dari tren peningkatan produksi dibanding tahun sebelumnya, Kabupaten Sukabumi melesat paling tinggi," ujar Yanti di Bandung, Senin.
Posisi kenaikan tertinggi kedua ditempati oleh Indramayu, disusul Kabupaten Tasikmalaya. Capaian ini menunjukkan bahwa potensi peningkatan produksi tidak lagi terpusat di Pantura, melainkan mulai merata ke wilayah selatan Jawa Barat.
Capaian positif antardaerah ini menopang posisi Jawa Barat sebagai kontributor beras terbesar kedua di tingkat nasional. DTPH Jabar mengawal akselerasi produksi melalui perluasan areal tanam dan bantuan sarana produksi pertanian.
"Sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota menjadi kunci. Kita optimistis keberhasilan daerah-daerah penyumbang ini dapat memperkuat swasembada pangan nasional pada 2026," tutur Yanti.
Data ini sekaligus menjadi peta jalan bagi pemda kabupaten/kota untuk menggenjot produktivitas lahan. Dengan Indramayu sebagai motor utama dan Sukabumi sebagai bintang baru, Jawa Barat menunjukkan diversifikasi lumbung pangan yang semakin kokoh.