BOGOR — Perdebatan soal rencana perubahan nama Jalan Batutulis–Suryakencana di Kota Bogor belum juga mereda. Alih-alih menyetujui atau menolak mentah-mentah, sejumlah tokoh masyarakat dan budayawan justru mengarahkan perhatian pada isu yang lebih fundamental: revitalisasi dan penguatan identitas kawasan.
Kawasan Batutulis–Suryakencana bukan sekadar ruas jalan. Di sanalah situs prasasti Batutulis peninggalan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi berada, menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Pajajaran. Namun, para tokoh menilai nilai historis itu perlahan tergerus oleh hiruk-pikuk kemacetan dan menjamurnya bangunan modern tanpa karakter.
“Kami tidak anti-perubahan. Tapi mengganti nama tanpa membenahi ekosistem kawasan adalah tindakan yang sia-sia,” ujar salah satu tokoh masyarakat Bogor yang enggan disebutkan namanya. Menurutnya, penguatan kawasan justru lebih mendesak agar generasi muda tidak kehilangan jejak sejarah kotanya sendiri.
Para tokoh mendorong Pemerintah Kota Bogor untuk menyusun rencana induk penataan kawasan Batutulis–Suryakencana secara menyeluruh. Beberapa poin yang disuarakan antara lain penataan pedestrian yang nyaman, penerangan yang memadai, serta pemasangan papan informasi sejarah yang interaktif.
Mereka menilai bahwa mengubah nama jalan hanyalah langkah simbolis yang tidak berdampak langsung pada peningkatan kualitas ruang publik. “Daripada sibuk mendiskusikan nama, lebih baik anggaran dan energinya dialokasikan untuk membuat kawasan ini layak dikunjungi dan dipelajari,” tambahnya.
Di sisi lain, warga sekitar juga berharap ada perbaikan infrastruktur dasar. Drainase yang kerap tersumbat saat hujan deras dan trotoar yang rusak dinilai lebih mendesak ketimbang polemik nama. Seorang pedagang di kawasan Suryakencana mengaku khawatir perubahan nama justru membingungkan pelanggan dan mengganggu usaha kecil mereka.
“Yang penting jalannya mulus, tidak banjir, dan nyaman untuk pejalan kaki. Soal nama, itu belakangan,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota Bogor belum mengeluarkan keputusan resmi terkait rencana perubahan nama tersebut. Rencananya, pemkot akan menggelar serangkaian forum diskusi dengan para budayawan, sejarawan, dan tokoh masyarakat untuk menjaring aspirasi secara lebih mendalam.
Yang jelas, suara dari bawah kini mulai terdengar jelas: jangan hanya ganti papan nama, tapi hidupkan kembali jiwa kawasan Batutulis–Suryakencana sebagai ruang sejarah yang bernapas.