Ketua Tim Pengembangan Alsintan UPTD BP Mektan Jabar, Tatang Sulaiman, menyebut hasil uji coba menunjukkan empat keunggulan utama adopsi drone. Pertama, efisiensi waktu dan tenaga—penyemprotan yang biasanya memakan waktu berjam-jam rampung dalam hitungan menit.
Kedua, sistem GPS dan penyemprotan presisi membuat pupuk cair serta pestisida tersebar lebih merata. Ukuran droplet yang halus meningkatkan penyerapan tanaman sekaligus menekan pemborosan bahan.
Ketiga, aspek keselamatan kerja. Petani tak lagi memanggul tangki berat atau berjalan di area yang baru disemprot bahan kimia. Risiko paparan pestisida berkurang signifikan. Keempat, drone efektif menjangkau lahan dengan akses terbatas, kontur sulit, atau tanaman yang sudah tinggi seperti jagung dan tebu.
Edukasi Visual untuk Petani di Lapangan
Demonstrasi ini sengaja digelar di hadapan petani setempat agar mereka melihat langsung cara kerja alat tersebut. “Kami ingin para petani melihat dan merasakan langsung manifes teknologi ini. Harapannya, kegiatan ini mampu mendorong percepatan adopsi teknologi pertanian modern yang jauh lebih efektif, efisien, dan aman di seluruh wilayah Jawa Barat,” ujar Tatang dalam keterangannya.
Pilot project ini menjadi bagian dari transformasi pertanian yang digagas Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar. Kelangkaan tenaga kerja dan tingginya biaya produksi disebut sebagai dua tantangan utama yang ingin dijawab melalui teknologi drone.