BANDUNG — Peluang Persib Bandung gagal menjadi juara Indonesia Super League 2026 memang kecil, tapi tetap diantisipasi serius oleh Pemerintah Kota Bandung. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara terbuka mengakui bahwa skenario terburuk justru lebih dulu dimatangkan dibandingkan skenario kemenangan.
“Ada skenario terbaik, ada skenario terburuk. Dua-duanya sudah siap dijalankan,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Jumat (22/5/2026).
Menurut Farhan, kekhawatiran utama adalah potensi kericuhan suporter jika Persib gagal mengunci gelar. Ia menegaskan pengamanan untuk skenario kekalahan justru lebih awal disiapkan dibandingkan skenario kemenangan.
“Untuk skenario terburuk adalah memperbanyak titik-titik pengamanan di daerah yang memang biasanya rawan,” jelasnya.
Pada laga pamungkas di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Sabtu (23/5/2026), Persib minimal harus meraih hasil imbang saat menjamu Persijap Jepara. Jika kalah, peluang juara terbuka lebar bagi Borneo FC yang saat bersamaan menghadapi Malut United di Stadion Segiri, Samarinda.
Pengamanan tidak hanya dipusatkan di area stadion. Farhan meminta seluruh kecamatan ikut memantau pergerakan Bobotoh, terutama setelah pertandingan usai.
“30 kecamatan pasti ada nobar. Kalau setiap kecamatan yang paling penting adalah mengamati pergerakan Bobotoh setelah nonton ngapain, atau pada saat nonton menjaga supaya tetap kondusif,” tegasnya.
Sementara itu, skenario jika Persib berhasil memastikan gelar juara baru akan dibahas lebih lanjut pada Jumat sore. Pemkot Bandung memastikan semua opsi sudah siap dijalankan demi keamanan dan ketertiban warga.