BANDUNG — Polda Jawa Barat memecah fokus pengamanan di seluruh kabupaten dan kota jelang potensi hattrick juara Persib Bandung. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar Kombes Pol Hendra menyatakan pihaknya menyoroti pergerakan suporter di jalur Pantura. Peringatan keras disampaikan kepada oknum kelompok suporter lain, seperti Jakmania, agar tidak melakukan tindakan provokasi atau kekerasan terhadap rombongan Bobotoh yang tengah melakukan konvoi.
Hendra menegaskan bahwa kepolisian tidak akan memberikan ampun bagi siapa pun yang melakukan penganiayaan terhadap rombongan Bobotoh. "Kepolisian menegaskan tidak akan memberikan ampun dan akan menindak tegas secara hukum siapa pun yang melakukan penganiayaan terhadap rombongan konvoi Bobotoh," tegas Hendra dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5/2026).
Di sisi lain, Bobotoh juga diminta menjaga ketertiban selama perayaan. Polisi melarang keras aksi perusakan fasilitas umum dan pengeroyokan.
Polisi mengimbau Bobotoh untuk merayakan kemenangan dengan cara positif. Petugas melarang penggunaan flare, bom molotov, hingga senjata tajam selama euforia berlangsung. Konsumsi minuman keras juga dilarang.
"Gunakan kesempatan euforia ini betul-betul dengan cara yang happy. Jangan menggunakan flare, molotov, atau membawa benda-benda tajam, itu dilarang keras dan kami akan melakukan tindakan penertiban (sweeping)," ujar Hendra. Razia secara intensif akan dilakukan petugas untuk mengantisipasi pelanggaran di lapangan.
Ditlantas Polda Jabar telah menyediakan titik-titik lokasi euforia seperti Gasibu, Dipatiukur, serta beberapa lokasi nonton bareng. Pengguna jalan lain diimbau menghindari rute perayaan pasca-kemenangan demi kelancaran lalu lintas. Perayaan pada hari Sabtu dibatasi maksimal hingga pukul 23.00 atau 24.00 WIB.
Pembatasan ini dilakukan karena pada hari Minggu akan dilanjutkan dengan agenda konvoi resmi kemenangan bersama seluruh komponen masyarakat. "Diharapkan seluruh rangkaian euforia ini telah selesai sepenuhnya pada hari Senin," ucap Hendra.
Polda Jabar juga melakukan penyekatan bagi massa suporter dari luar daerah—seperti Soreang, Rancaekek, Sumedang, hingga Cikoneng. Langkah ini bertujuan agar mereka dapat merayakan euforia di wilayah masing-masing tanpa harus menumpuk di pusat Kota Bandung.