INDRAMAYU — Alokasi pupuk subsidi untuk Kabupaten Indramayu pada tahun anggaran 2026 menjadi yang tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Total kuota yang disiapkan mencapai 130.825 ton untuk tiga jenis pupuk utama, yakni Urea, NPK, dan ZA.
Kepala Pengawas Pupuk Indonesia (PI) Kabupaten Indramayu, Fitri Yedi, mengonfirmasi angka tersebut. Menurutnya, besaran alokasi ini merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap produktivitas pangan nasional yang bertumpu pada lahan pertanian di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat.
“Kalau berbicara alokasi, Indramayu itu paling besar se-Jawa Barat,” ujar Fitri Yedi, Rabu (20/5/2026).
Meski mendapat jatah terbesar, realisasi distribusi pupuk ke tingkat petani masih berjalan lambat. Hingga 15 Mei 2026, baru 59.716 ton yang terserap atau terdistribusi ke kios resmi.
“Dari alokasi 130.825 ton itu, sampai 15 Mei 2026 baru terserap atau terdistribusi ke kios sekitar 59.716 ton,” kata Fitri.
Alih-alih khawatir, pihak pengawas justru menilai kondisi ini sebagai indikator positif. Ketersediaan stok yang melimpah disebut mampu meminimalisasi potensi kelangkaan pupuk di tingkat petani bawah.
“Kalau melihat histori tahun-tahun sebelumnya, alokasi tahun ini paling besar. Jadi kemungkinan kekurangan pupuk minim,” ucapnya.
Pupuk Indonesia menerapkan metode perhitungan penyerapan berdasarkan target distribusi bulanan, bukan kalkulasi per musim tanam. Pendekatan ini dipilih untuk memantau ketersediaan stok secara lebih riil dan antisipatif terhadap fluktuasi permintaan.
“Kalau berbicara pupuk di sektor pertanian, kami melihat penyerapan berdasarkan bulan berjalan, bukan per musim tanam,” jelas Fitri.
Sebagai perbandingan, pada tahun anggaran sebelumnya, total realisasi penyerapan pupuk bersubsidi oleh kelompok tani di Indramayu mencapai hampir 128 ribu ton hingga tutup tahun buku. Dengan serapan saat ini yang baru 45 persen, manajemen optimistis kebutuhan petani akan terpenuhi tanpa gejolak pasokan.
“Tahun lalu penyerapan sampai akhir tahun sekitar 128 ribu ton. Sekarang baru sekitar 45 persen. Jadi hitung-hitungan sementara masih aman,” tandasnya.
Pihak pengawas memproyeksikan kurva penyerapan pupuk subsidi akan kembali naik signifikan dalam waktu dekat. Peningkatan permintaan diperkirakan terjadi saat para petani memasuki siklus musim tanam berikutnya yang diprediksi jatuh pada rentang Juni hingga Juli 2026.
Dengan pola musim tanam yang teratur, ketersediaan stok yang melimpah di awal tahun diharapkan mampu mengantisipasi lonjakan kebutuhan di puncak musim. Indramayu sendiri menyumbang produksi padi signifikan bagi ketahanan pangan Jawa Barat dan nasional.