Pencarian

Industri Teh Jawa Barat Disorot: 80 Persen Produksi Nasional Masih Dijual Curah, Pemprov Dorong Rebranding Gaya Hidup Premium

Selasa, 19 Mei 2026 • 17:59:18 WIB
Industri Teh Jawa Barat Disorot: 80 Persen Produksi Nasional Masih Dijual Curah, Pemprov Dorong Rebranding Gaya Hidup Premium
Petani teh Jawa Barat masih menjual produk curah dengan harga di bawah biaya produksi.

BANDUNG — Di tengah gempuran kopi yang telah bertransformasi menjadi gaya hidup, teh Jawa Barat justru masih terpuruk di posisi komoditas massal. Padahal, provinsi ini memasok sekitar 80 persen kebutuhan teh nasional dan menjadi tulang punggung ekspor Indonesia. Namun, petani belum menikmati hasil yang layak karena sebagian besar daun teh dijual ke pabrik dalam bentuk curah dengan harga murah.

Petani Seperti Buruh Meski Punya Lahan

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani mengungkapkan, petani teh saat ini menjual hasil panen ke pengepul dengan harga yang jauh di bawah biaya produksi. "Petani menjual ke pabrik dengan harga yang sangat murah per-kilo atau per-tiga kilo ke pengepul. Harganya jauh di bawah biaya produksi. Petani jadi seperti buruh meskipun dia punya lahan," ujarnya dalam podcast Ngobrol Bareng Teteh di detikJabar, Selasa (19/5/2026).

Data Disperindag Jabar mencatat, sekitar 50 persen kebun teh di wilayah ini dimiliki masyarakat dengan luas rata-rata hanya dua hingga tiga hektare. Skala kecil itu membuat petani sulit bernegosiasi harga dan bergantung pada tengkulak atau pabrik pengolahan.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Industri Kopi?

Nining membandingkan perjalanan industri kopi yang berhasil keluar dari posisi serupa. Kopi, kata dia, pernah mengalami nasib yang sama sebelum akhirnya membangun budaya konsumsi dan branding global seperti fenomena Starbucks Culture. "Dari sana kopi berhasil dijual secara global dengan branding bagus, maka dari konsumsi massal berubah jadi lifestyle," jelasnya.

Saat ini, kopi sudah memasuki gelombang ketiga atau third wave coffee. Konsumen tidak sekadar membeli minuman, tetapi juga ingin tahu asal-usul, proses produksi, hingga indikasi geografisnya. "Nah kopi sekarang sudah sampai gelombang ketiga. Orang enggak cuma pengen minum kopi aja, tapi ingin tahu kopinya ditanam di mana, siapa petaninya, bagaimana proses produksinya," tutur Nining.

Teh Jabar Tak Kalah dari Darjeeling dan Matcha

Nining menegaskan, kualitas teh Jawa Barat sebenarnya tidak kalah dari produk unggulan dunia seperti Darjeeling (India), matcha Jepang, maupun teh Ceylon (Sri Lanka). Faktor iklim dan kondisi geografis Priangan dinilai sangat mendukung untuk menghasilkan teh berkualitas tinggi. "Iklim Jabar itu sangat sesuai untuk menumbuhkan teh dengan kualitas tinggi. Bahkan enggak kalah dengan Darjeeling India, matcha Jepang dan Sri Lanka," ujarnya.

Yang belum dimaksimalkan, menurut Nining, adalah identitas geografis dan storytelling produk. Di China dan Jepang, teh bukan sekadar minuman—ada ritual pengolahan hingga cara minum yang sarat filosofi. "Ini yang belum kita lakukan," katanya. Konsumen global saat ini juga semakin memperhatikan proses budidaya, penggunaan pestisida, dan kesejahteraan petani.

Rebranding Teh sebagai Gaya Hidup Premium

Pemprov Jabar kini mulai mendorong hilirisasi dan rebranding industri teh yang sarat nilai historis. Sejarah penanaman teh di Jawa Barat sudah mengakar sejak era kolonial, tepatnya pada medio 1800-an di Wanayasa, Purwakarta. Namun, tanpa branding yang tepat, teh masih dipandang sebagai minuman murah sehari-hari tanpa identitas premium.

"Nah teh belum pada tahap itu posisinya. Kita belum branding teh dengan benar. Kita belum merasa teh adalah produk premium yang layak dijual dengan nilai tinggi," pungkas Nining. Ke depan, penguatan identitas geografis dan edukasi konsumen menjadi kunci agar teh Jawa Barat bisa bersaing di pasar global seperti kopi.

Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks