Fitur pembuat frame AI yang populer di PC gaming kini dapat dijalankan di Android melalui aplikasi GameNative versi 0.9.1, menggunakan teknologi Vulkan untuk meningkatkan performa game hingga 50 fps lebih tinggi. Fitur ini telah diuji menjalankan The Last of Us Part 1 dari 30 fps menjadi lebih dari 80 fps, meski dengan jeda latensi yang harus diwaspadai pemain kompetitif.
Teknologi frame generation berbasis AI yang dulunya eksklusif PC gaming resmi tiba di Android. Developer FrankBaretta baru saja meluncurkan port Android dari Lossless Scaling Frame Generation (LSFG), sebuah tool populer yang sebelumnya hanya tersedia di Steam. Integrasi ini langsung ditanamkan ke GameNative, aplikasi streaming game PC yang sudah digunakan ribuan pemain Android di seluruh dunia untuk memainkan judul AAA di smartphone.
Cara Kerja Frame Generation di Android
Frame generation berbeda dari frame interpolation yang lebih sederhana. Jika interpolasi hanya memprediksi posisi objek di frame kosong, frame generation menggunakan AI untuk menciptakan frame baru yang sepenuhnya—teknologi serupa yang digunakan DLSS 3 (Nvidia) dan FSR 3 (AMD) di PC.
Di Android, implementasi LSFG memanfaatkan Vulkan API untuk menangkap aliran screen capture game melalui MediaProjection, lalu menambahkan frame artifisial dalam lapisan overlay sistem. Proses ini berbeda dengan versi Linux karena Android 12 ke atas secara eksplisit melarang kode eksternal masuk ke proses non-debuggable—itulah sebabnya tim developer harus menggunakan screen capture sebagai alternatif.
Performa dan Hasil Nyata di Lapangan
Hasil uji menunjukkan peningkatan substansial. The Last of Us Part 1, game yang bekerja berat di smartphone, berhasil ditingkatkan dari 30 fps stabil menjadi lebih dari 80 fps dengan frame generation aktif. Pengguna lain melaporkan lompatan dari 30 fps ke 60 fps, atau 60 fps ke 120 fps tergantung perangkat dan game.
Namun ada kalanya harga yang harus dibayar. Fitur ini menambahkan latensi (input lag) antara 50–80 milidetik dibanding versi Linux. Angka itu cukup signifikan untuk game yang membutuhkan refleks cepat seperti first-person shooter atau fighting game—pemain kompetitif sebaiknya mematikan frame generation saat bermain genre tersebut.
Syarat Perangkat dan Harga
Tidak semua smartphone Android bisa menjalankan fitur ini. LSFG memerlukan prosesor Snapdragon dengan GPU Adreno 600 series atau lebih baru—artinya kompatibel dengan sebagian besar flagship mid-range dan flagship Qualcomm dari tiga tahun terakhir, tetapi mengecualikan perangkat dengan chipset MediaTek, Exynos, atau Bionic Apple (iPhone).
Untuk menggunakannya, pengguna perlu membeli aplikasi PC asli seharga $7 (sekitar Rp 115 ribu) di Steam. Setelah itu, versi Android akan mengakses lisensi tersebut melalui integrasi Steam di GameNative. Aplikasi GameNative sendiri gratis, dengan opsi premium untuk streaming berkualitas lebih tinggi.
Batasan dan Ekspektasi Realistis
Tim pengembang tegas menekankan: LSFG bukan solusi ajaib. Jika perangkat sudah kesulitan mempertahankan frame rate dasar (misal sering lag di bawah 30 fps), frame generation tidak akan menyelamatkan pengalaman bermain—fitur ini hanya efektif jika basis frame rate sudah stabil.
Selain itu, frame generation hanya bekerja di GameNative untuk streaming game PC. Fitur ini tidak meningkatkan native Android game atau emulator, melainkan hanya game yang dijalankan melalui screen capture streaming dari PC.
Tren Frame Generation Meluas di Mobile
Peluncuran LSFG di Android menandai akselerasi tren frame generation ke perangkat mobile. Minggu lalu, aplikasi GameHub juga menambahkan fitur AI frame generation di versi 6.0.1, meskipun sumbernya masih belum jelas apakah berbasis LSFG atau teknologi pihak ketiga.
Perpindahan ini logis: seiring chipset mobile semakin kuat (terutama Snapdragon 8 Gen 3 ke atas), gaming PC remote semakin viable, dan frame generation adalah upgrade performa yang paling terasa tanpa butuh ubah game atau pengaturan grafis inti.
Fitur frame generation LSFG di Android cocok untuk pemain casual yang menginginkan pengalaman bermain game PC lebih smooth di smartphone, terutama pengguna Snapdragon flagship atau perangkat gaming khusus. Sebaliknya, pemain kompetitif FPS atau para penolak lag harus mempertimbangkan matikan fitur saat bermain game timing-critical.