Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memerah pada awal perdagangan Senin (11/5), terkoreksi 1,07% ke level 6.894. Di tengah tekanan jual yang merata, sektor kesehatan justru menonjol dengan penguatan signifikan 5,57%, sementara saham energi dan keuangan babak belur.
JAKARTA — Laju IHSG kembali tertekan di sesi pertama perdagangan pekan ini. Indeks dibuka tipis di 6.959,94, nyaris stagnan dari penutupan sebelumnya, lalu ambrol hingga menyentuh level terendah 6.846,63 pada pukul 09.43 WIB. Sebanyak 455 saham melemah, membebani indeks utama.
Mengapa IHSG Merah saat Sektor Kesehatan Justru Melejit?
Tekanan jual merata di sembilan dari sebelas sektor saham. Sektor energi menjadi yang paling terpuruk dengan koreksi 2,36%, disusul sektor industri turun 1,53% dan sektor keuangan terpangkas 1,37%. Saham perbankan besar ikut terseret; BMRI misalnya, anjlok 7,34% ke Rp 4.290 dari posisi penutupan sebelumnya Rp 4.630.
Namun di tengah lautan merah, sektor kesehatan justru mencatat kenaikan signifikan hingga 5,57%. Sektor infrastruktur juga ikut menguat 1,38%. Lonjakan ini didorong aksi beli pada saham farmasi dan rumah sakit. Tercatat, saham KAEF melonjak 23,12%, sementara MEDS dan LABS masing-masing naik 32,48% dan 24,22% — masuk jajaran top gainers.
Dolar AS Menguat, Rupiah Tertekan di Level 17.407
Pelemahan IHSG beriringan dengan posisi dolar Amerika Serikat yang berada di kisaran Rp 17.407. Nilai transaksi harian tercatat Rp 5,7 triliun dari volume perdagangan 12 miliar saham dengan frekuensi 838.475 kali. Saham BMRI menjadi yang paling aktif diperdagangkan berdasarkan nilai, mencapai Rp 666,7 miliar, disusul BUMI dan BRPT.
Saham lain yang masuk radar investor antara lain BRMS yang merosot 2% ke Rp 735 per saham, serta AADI yang tergelincir 3,18% ke Rp 9.125. Di sisi lain, saham ESIP, ASPR, dan SHIP menjadi top losers dengan koreksi masing-masing mendekati 15%.
Apa yang Mendorong Aksi Jual di Awal Pekan?
Tekanan jual juga terlihat pada saham PTRO yang turun 2,18% ke Rp 4.940, meski dibuka stagnan di Rp 5.050. Secara keseluruhan, mayoritas indeks acuan seperti LQ45 ikut tergelincir 1,4% ke level 666. Pasar Asia Pasifik yang bervariasi turut mempengaruhi sentimen investor di dalam negeri.
Meski demikian, penguatan di sektor kesehatan dan infrastruktur memberi sedikit angin segar bagi pelaku pasar yang mencari perlindungan di tengah volatilitas. Belum ada pernyataan resmi dari Bursa Efek Indonesia atau OJK terkait pergerakan hari ini.