Bareskrim Polri menggerebek markas judi online internasional di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, serta mengamankan 321 warga negara asing pada Sabtu (9/5/2026). Operasi gabungan ini membongkar jaringan lintas negara yang mengoperasikan 75 situs perjudian dan penipuan daring dari sebuah gedung perkantoran. Polisi turut menyita aset miliaran rupiah termasuk uang tunai lintas mata uang.
turut menyita aset miliaran rupiah termasuk uang tunai lintas mata uang. ISI:Personel Brimob bersenjata lengkap mengepung sebuah gedung perkantoran di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Tim gabungan Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya melumpuhkan operasional sindikat judi online (judol) berskala internasional di lokasi tersebut. Ratusan tenaga kerja asing tak berkutik saat polisi menghentikan aktivitas ilegal mereka.
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Wira Satya Triputra menegaskan para pelaku tertangkap tangan saat sedang beroperasi. Sindikat ini mengelola puluhan domain situs judi yang menyasar korban di berbagai negara melalui infrastruktur digital di jantung ibu kota. Penindakan ini sekaligus memutus ekosistem kejahatan digital yang tertata rapi.
Infrastruktur Digital dan Jaringan 75 Situs Perjudian
Jaringan ini menguasai dua lantai penuh di gedung perkantoran untuk menyamarkan aktivitas mereka. Penggunaan ruang formal ini merupakan strategi agar bisnis ilegal tersebut terlihat seperti perusahaan teknologi atau layanan pelanggan (call center) resmi. Polisi memastikan operasi mereka berjalan secara terstruktur dan profesional.
Penyidik mengidentifikasi sedikitnya 75 domain dan website yang digunakan untuk perjudian serta online scam. Perangkat kerja yang disita mencakup tumpukan komputer PC, laptop, hingga telepon seluler dalam jumlah besar. "Aktivitas ini dilakukan secara terstruktur dengan memanfaatkan sarana elektronik serta pola operasional digital lintas negara," ujar Wira di lokasi kejadian, Sabtu (9/5/2026).
Mobilisasi 321 Pekerja Asing dari Berbagai Negara Asia
Polisi meringkus 321 warga negara asing (WNA) yang berperan sebagai operator hingga manajemen tingkat menengah. Komposisi pekerja asing ini didominasi oleh warga negara Vietnam, namun mencakup berbagai kewarganegaraan lain di kawasan Asia Tenggara dan Timur. Skala rekrutmen lintas batas ini menunjukkan sistem manajemen yang mapan.
Data kepolisian merinci sebaran asal negara para pelaku sebagai berikut:
- Vietnam: 228 orang
- China: 57 orang
- Myanmar: 13 orang
- Laos: 11 orang
- Thailand: 5 orang
- Malaysia: 3 orang
- Kamboja: 3 orang
Polisi kini mendalami prosedur masuknya ratusan WNA tersebut ke wilayah Indonesia. Penyidik menelusuri dugaan penyalahgunaan visa kunjungan untuk bekerja di markas perjudian tersebut. Investigasi juga menyasar agen rekrutmen yang memfasilitasi mobilisasi tenaga kerja ilegal ini.
Sitaan Uang Tunai dan Aliran Dana Lintas Mata Uang
Penyidik menyita uang tunai senilai Rp1,9 miliar yang ditemukan langsung di lokasi penggerebekan. Temuan ini mengindikasikan perputaran uang yang masif dengan transaksi fisik di markas operasional. Selain Rupiah, polisi menemukan tumpukan mata uang asing dalam berbagai denominasi.
Barang bukti tersebut mencakup 53,82 juta Dong Vietnam dan US$10.210. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, nilai mata uang Amerika Serikat tersebut setara dengan Rp173,5 juta. Keberadaan mata uang asing ini memperkuat bukti bahwa target pasar dan aliran dana sindikat melintasi batas negara.
Pengamanan Ketat Brimob di Kawasan Hayam Wuruk
Satuan Brimob Polda Metro Jaya menjaga ketat lokasi penggerebekan sejak Jumat (8/5/2026) malam. Langkah ini menjamin proses pengumpulan alat bukti berjalan steril tanpa gangguan keamanan. Kehadiran personel bersenjata di kawasan bisnis tersebut sempat menarik perhatian warga dan pelaku usaha sekitar.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan penyidik tengah memetakan peran masing-masing dari 321 WNA tersebut. Fokus utama kepolisian adalah memburu otak di balik operasional ini serta melacak aliran dana ke rekening luar negeri. Polisi berkomitmen membongkar seluruh jaringan pendukung sindikat internasional ini.