Pencarian

Bayi di Baleendah Terpapar ISPA Akibat Warga Bakar Gunungan Sampah

Jumat, 08 Mei 2026 • 17:58:01 WIB
Bayi di Baleendah Terpapar ISPA Akibat Warga Bakar Gunungan Sampah
Bayi di Baleendah dirawat intensif akibat ISPA yang dipicu pembakaran sampah oleh warga.

BALEENDAH — Krisis kesehatan lingkungan melanda warga Kampung Cembol Pojok RT 03/16, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Aktivitas pembakaran sampah oleh warga setempat memicu polusi udara masif berupa asap pekat yang berdampak langsung pada kesehatan kelompok rentan.

Paparan asap sisa pembakaran yang terjadi terus-menerus mengakibatkan seorang bayi di wilayah tersebut terindikasi mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini memaksa korban mendapatkan perawatan medis secara intensif.

“Bayi tersebut kini harus dirawat intensif di rumah sakit. Kondisi darurat ini membuat warga sekitarnya khawatir ada korban lainnya,” demikian keterangan tertulis dari laporan masyarakat yang diunggah melalui akun media sosial Info Bandung Timur.

Dampak Penumpukan Sampah Selama Dua Bulan

Warga terpaksa membakar sampah karena limbah di lingkungan mereka sudah menggunung dan mengeluarkan bau menyengat. Di beberapa titik, sampah rumah tangga bahkan dilaporkan tidak terangkut oleh petugas kebersihan selama hampir dua bulan terakhir.

Praktik membakar sampah ini sebenarnya melanggar regulasi yang berlaku. Secara hukum, tindakan tersebut menabrak Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Selain itu, terdapat aturan daerah yang dilanggar yakni Perda Kabupaten Bandung Nomor 1 tahun 2022 tentang Pengelolaan Sampah serta Perda Nomor 2 tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun, warga merasa tidak memiliki pilihan lain di tengah tumpukan sampah yang kian tak terkendali.

Kendala Kuota Ritase di TPAS Sarimukti

Kepala UPTD Kebersihan wilayah 5 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Arif, mengakui adanya tumpukan sampah yang belum tertangani di sejumlah titik. Salah satu lokasi terdampak cukup parah berada di Pasar Sehat Cileunyi (PSC).

“Baru Senin (4/5/2026) ada tambahan lagi kuota ritase. Berharap sampah di Pasar Sehat Cileunyi segera bisa ditarik Sabtu (9/5/2026) besok,” kata Arif saat dikonfirmasi mengenai kendala pengangkutan.

Mengenai aksi warga yang membakar sampah karena frustrasi, Arif menyatakan pihak dinas tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya di lapangan. Meskipun secara aturan dilarang, kondisi di lapangan sangat mendesak akibat keterbatasan armada dan akses pembuangan.

“Ya jika ada warga membakar sampah kita tak bisa mencegahnya meski cara itu tidak boleh dilakukan,” ucapnya.

Kabupaten Bandung Darurat Sampah

Kondisi penumpukan sampah ini tidak hanya terjadi di Baleendah atau Cileunyi, melainkan merata di hampir seluruh wilayah Kabupaten Bandung. Bahkan, sampah di garasi DLH Jalan Citaliktik Soreang juga dilaporkan belum sempat ditarik ke tempat pembuangan akhir.

Penyebab utama penundaan penarikan ini adalah pembatasan kuota ritase ke TPAS Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. Saat ini, Kabupaten Bandung hanya mendapatkan jatah pembuangan sebanyak 280 ton sampah per hari.

Padahal dalam kondisi normal, volume sampah dari Kabupaten Bandung yang harus diangkut mencapai 1.000 ton per hari. Selisih angka yang besar ini menyebabkan sampah terus menumpuk di jalan-jalan desa, komplek perumahan, hingga area pasar yang memicu krisis kesehatan bagi warga.

Bagikan
Sumber: terasjabar.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks