Kisah MA Sentot, Kolonel Asal Indramayu yang Pimpin Pasukan Suropati Lawan Tiga Musuh Sekaligus

Penulis: Wendra Kusuma  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 09:39:01 WIB
Kolonel MA Sentot, putra Indramayu, memimpin Pasukan Suropati melawan tiga musuh pada masa revolusi fisik.

INDRAMAYU — Bagi generasi yang kini berusia di atas kepala empat, nama MA Sentot bukan sekadar papan nama rumah sakit. Ia adalah simbol perlawanan yang pernah membakar semangat di tanah Dermayu, julukan bagi wilayah Indramayu.

Pria yang lahir pada 17 Agustus 1925 dan wafat 6 Oktober 2001 ini adalah putra asli Pekandangan. Meski telah tiada lebih dari dua dekade, kisah keberaniannya masih kerap dituturkan sebagai warisan identitas warga setempat.

Di balik seragam militernya, MA Sentot dikenal sebagai pribadi yang alergi terhadap ketidakadilan. Ia memegang prinsip kokoh dan tak kenal kompromi, namun justru enggan memamerkan jasa-jasanya di masa perjuangan.

Penolakan saat Hendak Dibukukan

Kisah tentang kerendahan hati sang kolonel diungkapkan Saptaguna, seorang penulis yang sempat menyelami sisi personal MA Sentot. Dua dekade silam, ia bersama rekan-rekannya di Solidaritas Independen untuk Indramayu (SOLID) mendatangi kediaman MA Sentot di Desa Sukahaji, Kecamatan Patrol.

"Waktu itu kalau gak salah tahun 2000 atau 2001, saya dan kawan-kawan melakukan gerakan moral bernama SOLID (Solidaritas Independen untuk Indramayu), bahwa kita (Indramayu) punya tokoh hebat," kata Saptaguna saat ditemui di rumahnya, Minggu (16/8/2026).

Kegelisahan SOLID muncul karena sejarah tokoh-tokoh lokal mulai luntur. Saptaguna meyakini narasi perjuangan harus tetap hidup melintasi zaman.

"Itu harus ditulis. Harus diabadikan. Misalnya, MA Sentot sebagai pahlawan pejuang yang memimpin pemberontakan terhadap Belanda, kemudian ada tokoh pertanian, ada tokoh agama, dan lain-lain," ujarnya.

Namun, mendekati MA Sentot bukan perkara mudah. Sang pejuang sempat menunjukkan "pertahanan" saat hendak diwawancarai. Ia menolak kisah hidupnya dibukukan.

"Beliau orangnya keras (idealis). Waktu itu kami sempat ditolak sama beliau, rupanya beliau tidak mau ditulis (kisah hidupnya). Berkat bujuk rayu, akhirnya beliau mau," tutur Saptaguna mengenang momen tersebut.

Kalimat Tegas yang Melegenda

Karakter keras dan tanpa ampun terhadap penyimpangan terekam dalam buku Wong Dermayu Ngomong. Ketegasan MA Sentot disebut mampu menciutkan nyali siapa pun yang berseberangan dengan kebenaran.

Saptaguna masih ingat betul satu kalimat pendek namun tajam yang pernah diucapkan sang kolonel kepadanya. "Pokoknya yang tidak benar saya sikat," ucap Saptaguna, menirukan perkataan sang pejuang.

Panglima Pasukan Suropati di Tiga Front

Reputasi MA Sentot sebagai pemimpin militer teruji saat ia memimpin Batalyon A yang lebih dikenal sebagai Pasukan Suropati. Di masa revolusi fisik, ia bukan hanya menghadapi satu front pertempuran.

"Menurutnya, pada saat itu pasukan yang dipimpinnya harus melawan tiga musuh; pertama Belanda, kedua DI/TII, ketiga Barisan Sakit Hati (BSH)," katanya.

Di bawah komandonya, Pasukan Suropati bergerilya dari satu desa ke desa lain, menyulut api perlawanan rakyat. Nama-nama wilayah seperti Kaplongan, Gantar, Siwatu, hingga Bangkir menjadi saksi bisu betapa sengitnya pertempuran yang dipimpinnya.

"Bersama pasukannya, ia memimpin perang di beberapa daerah Indramayu, yang hingga kini dikenang dengan Pemberontakan Kaplongan, Pemberontakan Siwatu, Pemberontakan Gantar, Pemberontakan Bangkir, dan masih banyak lagi," ujar Saptaguna.

Jejak MA Sentot nyatanya melampaui batas wilayah Indramayu. Saptaguna menyebut catatan mengenai sepak terjang sang kolonel bahkan tersimpan rapi di Leiden, Belanda, sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kini, meski raga sang pejuang telah tiada, namanya tetap abadi. Warga Indramayu setiap hari menyebut namanya saat merujuk pada RSUD di Kecamatan Patrol-RS Sentot. Namun lebih dari sekadar nama bangunan, MA Sentot meninggalkan warisan tentang bagaimana menjadi manusia yang teguh pada prinsip dan berjuang tanpa mengharap puja-puji popularitas.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top