Lord of the Rings: War in the North Rilis Ulang di Steam, Mantan Developer Ungkap Kisah di Balik Rilis Berdampingan dengan Skyrim

Penulis: Uki Damayanti  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:32:02 WIB
War in the North versi Legacy Edition dirilis ulang di Steam dengan peningkatan teknis dan mendapat rating positif dari pengguna.

JAWA BARATRilis ulang The Lord of the Rings: War in the North dalam paket Legacy Edition pekan ini tidak hanya membawa peningkatan teknis, tetapi juga membuka kembali cerita lama tentang keputusan bisnis yang dianggap keliru. Game action RPG besutan Snowblind Studios ini kini mencatat rating "Very Positive" di Steam, sebuah pencapaian yang kontras dengan nasibnya saat pertama kali dirilis pada 2011.

Christian Allen, yang menjabat sebagai design director di WB Games Seattle saat itu dan kini menangani Project Zomboid, angkat bicara di media sosial. Ia menyebut telah berdebat keras secara internal agar WB Games memundurkan jadwal rilis War in the North dari 1 November 2011. Alasannya sederhana: game tersebut hanya memiliki jarak 10 hari dari perilisan The Elder Scrolls V: Skyrim, yang terjadi pada 11 November 2011.

"15 tahun lalu saya berargumen dengan lantang untuk tidak merilis game ini bersamaan dengan Skyrim, karena game ini tidak akan mendapat kesempatan yang adil. Saya ditolak," tulis Allen dalam unggahannya.

Keputusan Korporat yang Mengubur Potensi Game

Allen menambahkan bahwa War in the North juga dirilis dengan kampanye pemasaran yang sangat minim. Ia menduga WB Games sudah "menyerah" pada game tersebut sejak awal, atau berasumsi penggemar berat The Lord of the Rings akan mengetahui rilisnya dengan sendirinya. Sayangnya, asumsi itu tidak terbukti, dan game yang seharusnya menyasar audiens penggemar Tolkien itu tenggelam di bawah bayang-bayang Skyrim.

Dalam analisisnya, Allen menilai kasus ini adalah contoh klasik dari motivasi pendapatan kuartalan yang mendominasi pengambilan keputusan di perusahaan publik. "Motivasi pendapatan kuartalan menggerakkan lebih banyak keputusan daripada yang orang sadari. Ini tantangan besar bagi organisasi yang digerakkan oleh harga saham," jelasnya.

Nasib Developer dan Warisan yang Tersisa

Dampak dari keputusan tersebut terasa hingga ke level studio. Snowblind Studios, pengembang di balik War in the North, dilebur ke dalam Monolith Productions pada 2012. Sebagian besar stafnya kemudian berkontribusi pada Middle-Earth: Shadow of Mordor, game yang awalnya diawasi langsung oleh Allen. Monolith sendiri akhirnya ditutup oleh Warner Bros. pada 2025 setelah bertahun-tahun menggarap proyek game Wonder Woman yang tak kunjung selesai.

Meski demikian, edisi Legacy yang baru dirilis ini menjadi semacam penebusan bagi War in the North. Dengan sentuhan modernisasi yang dihadirkan Aspyr Media, para pemain baru maupun lama kini bisa menilai game tersebut berdasarkan kualitasnya, bukan sekadar posisinya di kalender rilis yang sial.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: pcgamer.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top