Tiongkok Kebut Tambang Tanpa Manusia: 10 Persen Truk Sudah Otonom, Robot Gantikan Pekerjaan Berbahaya

Penulis: Zaki Mubarak  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:05:31 WIB
Truk otonom berbasis listrik berkapasitas 136 ton dioperasikan di tambang batu bara terbuka Inner Mongolia pada 30 Juli 2026.

JAWA BARAT — Revolusi di tambang Tiongkok tidak berhenti pada truk tanpa sopir. Perusahaan seperti CiDi dan EACON mulai mengaburkan batas antara kendaraan dan robot. CiDi, misalnya, telah mengembangkan sistem MetaMine dan melaporkan pengiriman kumulatif truk otonom yang menembus 1.900 unit hingga semester I 2026, diterapkan di hampir 40 tambang di berbagai negara.

Di satu lokasi tambang, implementasi terbesar bahkan melampaui 220 unit truk otonom yang dikelola sebagai satu sistem terintegrasi. Albert Hu, CEO CiDi, menyebut perubahan ini sebagai lompatan besar. "Beberapa truk kami sekarang memiliki lengan robot," ujarnya. "Apakah itu truk? Atau robot? Kami sedang mengaburkan batas antara keduanya."

Lompatan paling nyata terlihat dari pengembangan AT-150, truk tambang tanpa kabin yang digarap State Power Investment Corporation (SPIC), Inner Mongolia North Hauler (NHL), dan EACON. Dioperasikan di tambang batu bara terbuka SPIC di Inner Mongolia pada 30 Juli 2026, kendaraan berkapasitas 136 ton ini menggabungkan penggerak listrik, kemampuan berkendara dua arah, dan sistem otonom penuh. Hasil uji lapangan menunjukkan konsumsi energinya sekitar 65 persen lebih rendah dibanding truk diesel sekelas.

Keselamatan Jadi Prioritas, Bukan Sekadar Pangkas Biaya

Dorongan robotisasi ini berakar pada kebutuhan mendesak untuk melindungi pekerja. Lin Boqiang, Direktur China Center for Energy Economics Research di Xiamen University, menegaskan robot unggul ditempatkan pada pekerjaan berbahaya seperti inspeksi lingkungan ekstrem, deteksi kebocoran gas, dan pekerjaan berat. "Bagi robot, pekerjaan-pekerjaan ini memang merupakan pekerjaan yang seharusnya mereka ambil," katanya.

Fokus pemerintah Tiongkok kini diarahkan pada tambang dengan risiko bencana tinggi. Pekerjaan seperti penggalian terowongan, pemasangan penyangga atap, pengeboran, hingga pengisian bahan peledak mulai diproyeksikan diambil alih robot. CiDi menargetkan robot pengisian bahan peledak untuk tambang terbuka mulai dipakai pada kuartal III 2026, disusul robot pengeboran pada awal 2027, dengan prioritas di wilayah Shanxi dan Inner Mongolia.

Hasilnya mulai terlihat. Liu Feng, Wakil Presiden China National Coal Association, menyebut jumlah tambang batu bara cerdas telah mendekati 1.000 unit dalam lima tahun terakhir. Hingga kuartal I 2025, terdapat 1.806 intelligent mining and tunneling workfaces yang beroperasi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja lebih dari 20 persen.

Manusia Bergeser ke Pusat Kendali, Bukan Hilang

Transformasi ini tidak serta-merta menghilangkan manusia dari operasi tambang. Peran mereka justru bergeser: operator yang duduk di balik kemudi truk kini pindah ke pusat kendali untuk memantau puluhan kendaraan dari satu lokasi. Inspektur dapat menggunakan robot berkaki empat untuk memeriksa area berbahaya, sementara teknisi tidak harus selalu berada di dekat mesin.

Di balik semua ini, sistem raksasa bekerja. Huawei mengembangkan sistem operasi tambang cerdas Mine Harmony, sementara Zhengzhou Coal Mining Machinery Group menghadirkan sistem ZMOS 2.0 untuk pengendalian terintegrasi. Beijing LongRuan Technology juga meluncurkan Loong Model 1.0, model AI khusus pertambangan yang disebut mampu memahami kondisi operasi tambang layaknya "Mine Doctor".

Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok (2026–2030) bahkan telah memasukkan pengembangan teknologi intelligent unmanned coal mining sebagai arah utama inovasi. Artinya, tambang tanpa manusia bukan lagi eksperimen, melainkan agenda pembangunan industri resmi.

Indonesia Punya Fondasi yang Sama

Di Indonesia, langkah serupa mulai terbentuk meski belum seagresif Tiongkok. PT Freeport Indonesia menerapkan 5G Underground Smart Mining di Grasberg, membuat kehadiran manusia dalam proses peledakan, hauling, dan crushing menjadi sangat minimal. PT Bukit Asam Tbk mengintegrasikan teknologi operasional dan informasi melalui platform CiSEA untuk pemantauan real time.

PT Vale Indonesia mengembangkan sistem real-time monitoring dan dispatch production, sementara PT Saptaindra Sejati menerapkan smart mining dengan sistem digital manajemen armada. Fondasi seperti remote operation, sensor, IoT, dan pusat kendali sudah ada. Tahap berikutnya adalah mengintegrasikan semua itu agar keputusan operasional semakin banyak diambil sistem secara otomatis.

Perjalanan menuju tambang tanpa manusia memang panjang, tetapi arahnya sudah jelas. Bagi Tiongkok, ini soal keselamatan dan produktivitas. Bagi Indonesia, pertanyaannya tinggal seberapa cepat industri siap mengikuti.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top