JAWA BARAT — Setiap angka kematian ibu dan bayi pasti menyisakan duka mendalam. Di Brebes, Pemerintah Kabupaten bertekad menekan angka tersebut dengan cara yang lebih menyeluruh, bukan hanya memastikan proses persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan.
Pendekatan ini mulai menunjukkan hasil. Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, mengungkapkan bahwa intervensi yang dilakukan sejak masa kehamilan membuahkan hasil positif.
"Dari 34 tahun 2025, sekarang alhamdulillah turun jadi 15. Semoga bisa terus ditekan sampai akhir tahun dengan program CSR dan gotong royong semua pihak dalam mencegah angka kematian ibu dan bayi," ujarnya seusai kegiatan bakti sosial pemeriksaan ibu hamil di halaman RSUD Brebes, Selasa (11/8/2026).
Pencegahan yang efektif tidak bisa dimulai saat kontraksi sudah datang. Justru, pemeriksaan kehamilan rutin menjadi garda terdepan untuk mendeteksi kondisi berbahaya sejak dini.
Dalam kegiatan bakti sosial tersebut, sebanyak 500 ibu hamil dari lima puskesmas di wilayah perkotaan Brebes mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis dan paket nutrisi. Mereka yang masuk kategori risiko tinggi pun mendapat perhatian khusus.
Direktur RSUD Brebes, Adhi Supriadi, menegaskan bahwa rumah sakitnya memiliki program khusus untuk ibu hamil berisiko. "RSUD Brebes membantu memfasilitasi ibu hamil dengan risiko tinggi. Ada program Bujamil," jelasnya.
Kesehatan ibu hamil tidak bisa dipisahkan dari masalah gizi. Pemerintah Kabupaten Brebes secara sadar mengaitkan pemeriksaan kesehatan ibu dengan upaya pencegahan stunting pada anak.
RSUD Brebes memiliki bagian gizi yang khusus menangani persoalan ini. Intervensi gizi ditempatkan sebagai bagian penting dari upaya perbaikan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh.
Artinya, tujuan kita bukan sekadar memastikan bayi lahir dengan selamat. Kondisi kesehatan sejak dalam kandungan juga menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan. Paket nutrisi yang dibagikan menjadi bagian dari pendekatan luas ini, berjalan beriringan dengan deteksi risiko kehamilan.
Meski pencegahan adalah yang utama, kesiapan fasilitas kesehatan saat kondisi darurat tetap krusial. Waktu menjadi faktor penentu dalam kasus kehamilan berisiko.
RSUD Brebes telah menyiapkan fasilitas rawat inap untuk mendukung pelayanan ibu hamil dan persalinan. Tersedia dua ruangan rawat inap yang masing-masing dilengkapi empat tempat tidur, serta dua tempat tidur tambahan di instalasi gawat darurat.
Semakin cepat risiko dikenali dan pasien mendapatkan penanganan yang sesuai, semakin besar peluang komplikasi dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Penurunan angka dari 34 menjadi 15 kasus adalah bukti bahwa rangkaian intervensi ini—pemeriksaan, identifikasi risiko, pemenuhan gizi, dan kesiapan rujukan—harus terus dijaga.
Pemerintah Kabupaten Brebes kini menargetkan tren penurunan ini berlanjut hingga akhir 2026. Untuk mencapainya, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), terus dibuka. Di tingkat masyarakat, pesannya sederhana: jangan pernah menunda pemeriksaan kehamilan, karena deteksi dini adalah kunci keselamatan ibu dan bayi.