SUMEDANG — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Kabupaten Sumedang melaporkan stok CPPD per 27 Juli 2026 tercatat 321,1 ton beras. Jumlah itu masih berada di atas ambang minimal 220 ton yang ditetapkan dalam ketentuan daerah.
Kepala DKPP Sumedang Tono Suhartono mengatakan cadangan pangan menjadi instrumen krusial bagi pemerintah daerah menjaga ketersediaan dan akses pangan warga. Terlebih jika musim kemarau berdampak pada penurunan produksi pertanian di sejumlah wilayah.
“Stok CPPD per 27 Juli 2026 tercatat sekitar 321,1 ton beras atau masih berada di atas ambang minimal 220 ton yang ditetapkan pemerintah daerah, sehingga masih aman untuk mendukung penanganan dampak kemarau,” kata Tono dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Sepanjang tahun 2026, Pemkab Sumedang telah menyalurkan sekitar 34 ton CPPD untuk membantu penanganan kerawanan pangan dan kondisi darurat di beberapa daerah. Meski sudah disalurkan, stok yang tersisa dinilai masih mencukupi apabila sewaktu-waktu diperlukan kembali.
Musim kemarau berkepanjangan kerap memicu gagal panen atau penurunan hasil pertanian di daerah-daerah yang bergantung pada tadah hujan. Sumedang, yang sebagian wilayahnya merupakan lumbung padi, tidak luput dari risiko tersebut.
CPPD berfungsi sebagai buffer stock yang bisa segera digelontorkan ketika harga beras melonjak atau pasokan terganggu. Dengan stok 321 ton, Pemkab Sumedang memiliki ruang gerak untuk melakukan intervensi pasar maupun distribusi bantuan pangan ke warga terdampak.
Dari total cadangan yang ada, sebanyak 34 ton telah disalurkan untuk penanganan kerawanan pangan dan kondisi darurat di beberapa daerah. Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah mengaktifkan mekanisme cadangan pangan sesuai kebutuhan.
Dengan sisa stok yang masih jauh di atas batas minimal, Tono optimistis Sumedang mampu menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September mendatang. Pihaknya juga terus memantau perkembangan produksi padi dan harga beras di pasar tradisional.