JAWA BARAT — Jakarta mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah Harmony in Diversity (HID) Award 2026, sebuah ajang penghargaan yang menyasar individu-individu inspiratif di Asia Tenggara. Penyelenggaraan perdana ini berlangsung selama dua hari, 14–15 Juli 2026, dengan malam penganugerahan di Hotel Indonesia Kempinski. Acara ini diinisiasi oleh Temasek Foundation asal Singapura bersama 5P Global Movement dari Indonesia, dan resmi diluncurkan pada 1 Agustus 2025 di Singapura.
Penghargaan tahun ini diberikan kepada Kardinal Orlando Beltran Quevedo. Tokoh asal Filipina ini dinilai berjasa memediasi konflik berkepanjangan di Mindanao melalui forum Bishops-Ulam Conference. “Kiprahnya menjadi bukti bahwa dialog lintas agama dan komunitas mampu membuka jalan menuju perdamaian,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam jamuan makan malam di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Selasa (14/7).
Ajang ini menerima lebih dari 70 nominasi dari berbagai negara di Asia Tenggara. Penilaian dilakukan berdasarkan lima kriteria yang disebut R.A.I.S.E., yaitu Relevance, Align, Innovation, Significance, dan Elevate. Menurut Pramono, angka tersebut menunjukkan antusiasme tinggi terhadap nilai-nilai solidaritas dan kepercayaan di kawasan.
Data dari Southeast Asian Social Cohesion Radar mencatat Indeks Kohesi Sosial ASEAN saat ini berada di angka 72,4 persen. Gubernur Pramono menilai capaian itu sudah baik, tetapi tetap memerlukan langkah kolaboratif yang konsisten. “Di sinilah urgensi penyelenggaraan Harmony in Diversity Award,” tambahnya.
Pemprov DKI Jakarta menyebut nilai harmoni dalam keberagaman sudah menjadi identitas kota. Dukungan terhadap berbagai perayaan hari besar keagamaan dan budaya menjadi bukti nyata. Mulai dari Christmas Carol Kolosal, perayaan Imlek, parade Ogoh-ogoh, Jakarta Bedug Kolosal, hingga Waisak, semuanya mendapat ruang di ibu kota. “Keberagaman adalah sumber kekuatan utama Jakarta,” tegas Pramono.
Jamuan makan malam yang digelar di Balai Kota Jakarta menjadi ajang pertemuan para tokoh berpengaruh. Hadir dalam kesempatan tersebut mantan Presiden Singapura Halimah Yacob, Founder and Chair of 5P Global Movement Arsjad Rasjid, serta dua mantan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi dan Marty Natalegawa. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa diplomasi lintas batas menjadi kunci menjaga stabilitas kawasan.