CIANJUR — Perjuangan Ai Juariah untuk kembali ke kampung halaman akhirnya usai. Pekerja migran asal Cianjur yang videonya heboh di media sosial karena memohon pertolongan dalam keadaan terluka di Libya, mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu malam. Ia langsung dijemput tim gabungan dari KP2MI, BP3MI Jawa Barat, dan Polres Cianjur.
Proses pemulangan Ai sempat menemui jalan buntu. Situasi politik yang tidak stabil di Libya dan tuntutan denda sebesar Rp150 juta menjadi hambatan utama. Namun, intervensi pemerintah pusat berhasil membebaskan Ai dari kewajiban membayar denda tersebut, sehingga proses kepulangannya bisa dipercepat.
Setibanya di Cianjur, Ai dijadwalkan menuju Pendopo Cianjur untuk bertemu dengan Bupati dan keluarganya. Kapolres Cianjur, AKBP A Alexander Yurikho Hadi, mengonfirmasi bahwa keluarga korban tidak ikut menjemput ke Jakarta dan baru dipertemukan di Cianjur.
"Setelah itu baru kami akan bawa ke Mapolres untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan TPPO-nya," kata Kapolres, Senin (13/7/2026).
Kasus ini mencuat setelah video berdurasi 59 detik viral. Dalam rekaman itu, Ai tampak menangis dengan luka di kepala yang mengucurkan darah hingga membasahi pakaiannya. Ia memohon bantuan kepada Presiden Prabowo dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ai diduga menjadi korban TPPO dengan modus pemberangkatan tenaga kerja nonprosedural ke Timur Tengah dan dipaksa bekerja meski dalam kondisi kesehatan yang buruk.
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat, Kombes Pol Singgih Hermawan, menyatakan pihaknya bersama Polres Cianjur dan Kementerian PPPA akan mengawal kepulangan Ai hingga ke kediamannya. Polres Cianjur juga akan melakukan pendampingan terkait dugaan TPPO oleh calo yang memberangkatkan Ai ke Libya.
"Setelah berhasil pulang ke Indonesia, selanjutnya Polres Cianjur akan melakukan pendampingan terkait dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) oleh calo yang telah membawa Ibu Ai ke Libya," kata Singgih.