JAWA BARAT — Data Refinitiv menunjukkan rupiah menyentuh level Rp17.500/US$ pada pukul 09.15 WIB, setelah pembukaan perdagangan pagi dipatok di zona merah pada level Rp17.480/US$. Penguatan dolar AS juga tercatat signifikan, dengan indeks dolar (DXY) naik 0,21% ke posisi 98,115 pada pembukaan pasar.
Pemicu utama pelemahan rupiah berasal dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan gencatan senjata dengan Iran kini "di ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington. Gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April dinyatakan sangat rapuh oleh Trump, yang menilai respons Iran "sama sekali tidak dapat diterima."
Iran menuntut penghentian konflik di semua front—termasuk Lebanon—sekaligus menuntut kompensasi kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya. Teheran juga mengklaim kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Ketegangan geopolitik ini langsung tercermin di pasar energi. Harga minyak Brent Crude terdorong naik lebih dari 3% ke atas US$104 per barel, sementara arus kapal melalui Selat Hormuz menyusut drastis. Penyusutan ini memaksa produsen minyak memangkas ekspor dan menekan pasokan global—situasi yang biasanya memicu flight to safety ke dolar AS dan aset-aset defensif.
Eskalasi geopolitik juga memicu aksi AS menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf sebaliknya memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons setiap agresi, menambah ketidakpastian pasar.
Perpaduan antara kepanikan geopolitik dan kenaikan imbal hasil obligasi AS mendorong penguatan dolar terhadap seluruh mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah. Investasi global cenderung bergerak ke aset-aset safe haven seperti obligasi Treasuri AS ketika ketidakpastian melonjak—pola yang jelas terlihat sejak Trump mengeluarkan pernyataan tentang gencatan senjata Iran.
Sementara itu, survei menunjukkan dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan tujuan perang tersebut secara akurat, menciptakan tambahan ketidakpastian di pasar.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada pertemuan Trump dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pada Rabu, di mana isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama. Hasil dialog AS-China mengenai eskalasi Timur Tengah dapat menentukan apakah rupiah akan stabil atau terus melemah dari level rekor hari ini.