CEBU — Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya perlindungan kedaulatan wilayah perairan agar aktivitas ekonomi di kawasan tidak terhambat. Hal ini disampaikan saat menghadiri sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat (8/5).
Situasi di Selat Hormuz yang memanas akibat ketegangan Iran-Israel-Amerika Serikat menjadi latar belakang utama seruan tersebut. Prabowo mengingatkan bahwa ketahanan sebuah kawasan tidak hanya bergantung pada ketersediaan energi, tetapi juga pada keamanan jalur distribusinya.
"Ketahanan bukan hanya soal energi. Ketahanan juga berarti menjaga dan melindungi jalur kehidupan kawasan kita, yaitu jalur distribusi dan perdagangan. Kita harus menyadari bahwa kawasan kita memiliki jalur perdagangan strategis yang melintasi wilayah perairan kita, dan kita harus berhati-hati agar tidak terjadi gangguan di kawasan kita sendiri," ujar Prabowo.
Kewaspadaan ini dinilai mendesak karena jalur perdagangan di Asia Tenggara merupakan urat nadi ekonomi dunia. Gangguan pada titik-titik krusial di kawasan ini akan berdampak langsung pada stabilitas harga dan ketersediaan komoditas penting bagi masyarakat luas.
Presiden menilai tantangan ekonomi dan keamanan saat ini terlalu kompleks jika hanya ditangani oleh setiap negara secara mandiri. ASEAN dituntut untuk meningkatkan solidaritas dalam memitigasi potensi hambatan perdagangan yang melintasi wilayah perairan Asia Tenggara.
"Ini bukan tantangan yang dapat ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama," tegasnya di hadapan para pemimpin negara anggota.
Penguatan kerja sama regional ini bertujuan agar ASEAN tetap menjadi kawasan yang aman dan stabil. Fokus utamanya adalah memastikan perlindungan terhadap warga negara di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik dunia yang dinamis.
Selain stabilitas ekonomi, Prabowo juga menyoroti pentingnya posisi politik ASEAN di kancah global. Momentum saat ini dianggap tepat bagi organisasi regional tersebut untuk menunjukkan pengaruhnya dalam mendorong kepatuhan terhadap aturan internasional.
"Dalam melindungi warga negara kita, ASEAN harus berbicara dalam satu suara. Kita harus meminta semua pihak untuk menjunjung hukum internasional dan mendorong akuntabilitas terhadap setiap pelanggaran. Ini adalah momentum bagi ASEAN untuk menunjukkan pengaruhnya. Kita harus memiliki suara politik kolektif yang kuat," kata Prabowo.
Melalui penguatan solidaritas ini, ASEAN diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika global, tetapi mampu memprioritaskan kepentingan keamanan dan kesejahteraan kawasan secara menyeluruh.