SUBANG — Baznas Kabupaten Subang memperkuat kompetensi juru sembelih di wilayahnya melalui pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha). Kegiatan ini bertujuan memastikan proses pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Iduladha mendatang berjalan sesuai ketentuan fikih dan standar kesehatan masyarakat.
Ketua Baznas Subang, Dr. H.A. Sukandar, mengungkapkan bahwa inisiatif ini muncul karena masih ditemukan praktik penyembelihan hewan yang belum memahami standar kehalalan yang benar. Edukasi menjadi kunci agar kualitas daging kurban yang dibagikan kepada warga benar-benar terjamin mutunya secara syar'i.
"Pelatihan Juleha ini untuk memberikan pemahaman kepada para juru sembelih mengenai standar penyembelihan halal. Saat ini masih ada yang menyembelih hanya sekadar menyembelih tanpa mengetahui standarnya," ujar H.A. Sukandar kepada Pasundan Ekspres di Aula Kantor Baznas Subang.
Melalui pembekalan ini, para peserta diharapkan tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki wawasan mendalam mengenai rukun dan syarat sah penyembelihan. Hal ini krusial untuk menghindari keraguan masyarakat terhadap status kehalalan daging yang mereka konsumsi saat hari raya.
Pelatihan ini diikuti oleh 35 peserta yang merupakan delegasi juru sembelih dari 30 kecamatan di seluruh Kabupaten Subang. Dengan sebaran peserta yang luas, Baznas menargetkan ilmu mengenai tata cara penyembelihan yang benar dapat ditularkan kepada panitia kurban lainnya di tingkat desa maupun kelurahan.
Asisten Daerah (Asda) I Kabupaten Subang, H. Rahmat Effendi, hadir secara langsung untuk membuka agenda tersebut. Dalam pelaksanaannya, Baznas juga menggandeng perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag) Subang sebagai pemateri untuk memberikan standarisasi yang diakui secara regulasi dan agama.
Hadir pula mendampingi Ketua Baznas dalam kegiatan tersebut para wakil ketua, yakni KH Satibi, Wahyudin, Heru Sugiharto, dan H.T. Munandar Hilmi. Program ini menjadi bagian dari upaya perlindungan konsumen bagi umat Muslim di Subang, sekaligus meningkatkan keterampilan sumber daya manusia lokal dalam mengelola prosesi ibadah kurban secara profesional.