SMA PGRI 1 Purwakarta Tanamkan Nilai Pancawaluya Demi Karakter Siswa

Penulis: Uki Damayanti  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 15:48:55 WIB
Siswa SMA PGRI 1 Purwakarta menerapkan nilai Pancawaluya dalam aktivitas harian untuk pembentukan karakter.

PURWAKARTA — Sekolah Menengah Atas (SMA) PGRI 1 Purwakarta mengintensifkan pembentukan karakter siswa melalui penguatan budaya Pancawaluya dalam aktivitas harian. Sekolah yang berlokasi di Jalan RE Martadinata No. 87 ini menjadikan nilai moral sebagai fondasi utama, bukan sekadar mengejar capaian nilai akademik di atas kertas.

Interaksi antara guru dan siswa di lingkungan sekolah kini terlihat lebih cair namun tetap menjunjung tinggi etika kesopanan. Setiap pagi, gerbang sekolah menjadi titik awal penerapan kebiasaan senyum, sapa, dan salam yang menjadi pembuka proses belajar mengajar untuk membangun suasana belajar yang kondusif.

Lima Pilar Pancawaluya: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer

Konsep Pancawaluya yang diterapkan terdiri dari lima nilai utama masyarakat Sunda, yakni cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (tangguh). Kelima prinsip ini diintegrasikan secara konsisten dalam setiap aktivitas siswa, baik di dalam maupun di luar kelas.

Kepala SMA PGRI 1 Purwakarta, Neni Anggraeni, menjelaskan bahwa pembiasaan sederhana merupakan langkah paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Menurutnya, rasa saling menghargai antarsiswa maupun dengan tenaga pendidik harus tumbuh dari kesadaran harian.

“Kami memulai dari hal kecil, seperti membiasakan senyum, sapa, dan salam. Dari situ tumbuh rasa saling menghargai,” kata Neni saat memberikan penjelasan pada Selasa (5/5).

Mengapa Karakter Menjadi Fondasi Utama Pendidikan?

Pihak sekolah menilai bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya diukur dari angka-angka hasil ujian. Integritas dan sikap dinilai memiliki peran yang jauh lebih besar dalam menentukan kualitas serta masa depan generasi muda di tengah persaingan global.

“Nilai Pancawaluya harus benar-benar hadir dalam keseharian. Ini bukan sekadar slogan, tetapi prinsip hidup yang membentuk kepribadian siswa,” ujar Neni menekankan pentingnya implementasi nilai tersebut secara nyata.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Peran keluarga dianggap sangat krusial sebagai benteng utama anak dalam menghadapi pengaruh negatif dari perkembangan zaman dan teknologi.

“Orang tua harus hadir dalam proses ini. Komunikasi yang baik akan membantu anak tetap berada di jalur yang positif,” ucapnya.

Respons Positif Warga Terhadap Perubahan Sikap Pelajar

Penerapan budaya Pancawaluya ini mendapat apresiasi dari warga yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah. Masyarakat menilai para siswa kini menunjukkan perubahan perilaku yang lebih ramah dan santun saat berinteraksi dengan warga sekitar.

Ahmad (45), salah seorang warga setempat, mengaku merasakan dampak positif dari kebiasaan sederhana yang diajarkan sekolah. Ia melihat para pelajar kini lebih sering menyapa dan menunjukkan sikap hormat saat berpapasan di jalan.

“Siswa di sini sekarang sopan dan ramah. Kebiasaan kecil itu terasa dampaknya,” ungkap Ahmad.

Senada dengan Ahmad, Siti (39) juga mengapresiasi suasana lingkungan sekolah yang kini terasa lebih harmonis. Ia bangga melihat para generasi muda tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga tetap menjaga akar budaya dan etika ketimuran dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter: Uki Damayanti
Back to top