AMD Prediksi Pendapatan Bisnis Gaming Merosot 20 Persen Akibat Kelangkaan Memori

Penulis: Valdi Pratama  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 10:04:01 WIB
AMD memperkirakan pendapatan bisnis gaming turun lebih dari 20 persen pada paruh kedua 2026 akibat kelangkaan memori.

AMD memproyeksikan penurunan pendapatan bisnis gaming lebih dari 20 persen pada paruh kedua 2026 akibat lonjakan biaya komponen dan kelangkaan memori global. Kondisi ini menjadi sinyal buruk bagi stabilitas harga kartu grafis serta konsol populer seperti PlayStation 5 dan Xbox di pasar retail. CEO AMD Lisa Su memperingatkan bahwa tekanan rantai pasok ini memaksa perusahaan untuk melakukan penyesuaian strategi bisnis secara signifikan.

AMD baru saja merilis laporan keuangan kuartal pertama 2026 dengan pesan yang kontras bagi investor dan konsumen. Sektor gaming, yang mencakup kartu grafis (GPU) serta chip untuk konsol, diperkirakan bakal melesu signifikan di sisa tahun ini. Perusahaan mengonfirmasi bahwa hambatan utama bukan datang dari kurangnya inovasi, melainkan dari sisi hulu produksi.

Biaya Produksi Membengkak Bebani Lini Gaming

Jean Hu, Executive Vice President dan Chief Financial Officer AMD, mengungkapkan bahwa penurunan pendapatan ini dipicu oleh fenomena "memory crunch" atau kelangkaan pasokan memori. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga komponen yang tidak bisa lagi dihindari oleh manufaktur perangkat keras.

"Kami memperkirakan permintaan gaming di paruh kedua akan terdampak oleh tingginya biaya komponen dan memori," ujar Jean Hu. Ia menegaskan bahwa pendapatan sektor gaming diprediksi turun lebih dari 20 persen jika dibandingkan dengan pencapaian pada paruh pertama tahun ini.

Sentimen serupa sebenarnya telah disuarakan oleh raksasa semikonduktor lain seperti Micron dan SK Hynix. Namun, pernyataan AMD memberikan gambaran lebih nyata mengenai seberapa besar dampak kenaikan harga bahan baku terhadap produk akhir yang biasa dibeli oleh pengguna rumahan.

Ancaman Kenaikan Harga Konsol PlayStation dan Xbox

Proyeksi lesunya pendapatan gaming AMD memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem konsol. Sebagai penyedia chip utama untuk Sony dan Microsoft, penurunan pesanan dari AMD mencerminkan kondisi pasar konsol yang sedang tidak stabil. Dalam setahun terakhir, Microsoft tercatat telah menaikkan harga Xbox Series sebanyak dua kali di beberapa wilayah.

Sony juga melakukan langkah serupa dengan menaikkan harga seluruh model baru PlayStation 5 (PS5) pada Maret lalu. Bahkan, baru-baru ini Sony meningkatkan harga PS5 Slim versi refurbished sebesar $100 atau sekitar Rp 1,6 juta. Kenaikan harga di tingkat retail ini diduga kuat merupakan respons atas biaya produksi yang membengkak di sisi komponen memori.

Bagi konsumen di Indonesia, tren ini patut diwaspadai. Meski permintaan laptop Ryzen komersial masih menunjukkan pertumbuhan positif, kenaikan biaya komponen global biasanya akan tereskalasi ke harga jual perangkat di pasar lokal dalam waktu singkat.

Sektor Data Center dan AI Tumbuh 70 Persen

Di balik awan mendung sektor gaming, AMD justru memanen keuntungan besar dari lini korporat. Perusahaan memproyeksikan pendapatan CPU untuk pusat data (data center) melonjak 70 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal kedua 2026. Pertumbuhan fantastis ini didorong oleh permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Keberhasilan di sektor AI ini menempatkan AMD di posisi yang aman secara finansial, meski bisnis konsumernya sedang tertekan. Fenomena ini memperlihatkan pergeseran prioritas industri semikonduktor global yang kini lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan server dan pengolahan data berskala besar.

Strategi AMD saat ini terlihat sangat pragmatis:

  • Diversifikasi Pendapatan: Mengandalkan lonjakan permintaan chip AI untuk menutupi defisit di sektor gaming.
  • Efisiensi Operasional: Melakukan penyesuaian volume produksi konsol sesuai dengan ketersediaan memori yang makin mahal.
  • Fokus Komersial: Mendorong penjualan laptop lini Ryzen Pro untuk menjaga pangsa pasar di segmen klien.

Meski kinerja saham AMD sempat dipengaruhi oleh peringatan ini, perusahaan tetap optimistis bahwa dominasi mereka di pasar pusat data akan menjadi mesin pertumbuhan utama di masa depan. Bagi para gamer, tahun 2026 tampaknya akan menjadi periode yang penuh tantangan untuk melakukan upgrade perangkat tanpa merobek kantong lebih dalam.

Reporter: Valdi Pratama
Back to top