BANDUNG — Produksi teh Jawa Barat yang selama ini menjadi yang terbesar di Indonesia ternyata belum berbanding lurus dengan nilai jual di pasar global. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengungkapkan bahwa sebagian besar ekspor masih didominasi teh curah berbentuk esens atau ekstrak yang harganya rendah.
"Kita produsen nomor satu se-Indonesia, luas lahannya dan kemudian produksinya. Namun yang kita jual adalah teh curah, hampir semua teh curah yang berbentuk 'essence' atau ekstrak. Nah, ini kemudian berdampak kepada nilai jual yang rendah," kata Nining di Bandung, Rabu.
Strategi Premiumisasi dan Pameran Dagang
Pemprov Jabar tidak tinggal diam. Salah satu jurus utama adalah mendorong hilirisasi dan penataan merek melalui WIITEX 2026: "The Golden Belt of Java: Coffee, Tea, and Cocoa for The Future". Pameran yang akan berlangsung pada 12-14 Juni 2026 di Summarecon Bandung ini memfasilitasi 72 pelaku usaha komoditas perkebunan untuk melakukan rebranding dan mencari mitra dagang baru.
Lewat business matching hibrida, sebanyak 42 buyer dari 11 negara dijadwalkan hadir, termasuk Duta Besar Pakistan. Pemerintah berharap pasar tujuan ekspor teh Jabar tidak hanya bergantung pada Malaysia, melainkan meluas ke kawasan baru.
Sasaran Pasar Baru: Rusia hingga Afrika Utara
Pemerintah pusat turut bergerak. Analis Perdagangan Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Perkebunan pada Ditjen PEN Kementerian Perdagangan RI, Irman Adi Purwanto Moefthi, mengatakan diversifikasi pasar tengah dibidik untuk menyelamatkan komoditas teh nasional. Dua kawasan potensial yang menjadi sasaran adalah Rusia serta kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah.
"Negara-negara seperti wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah, seperti halnya Mesir itu, bukan hanya tertarik pada kopi saja, tetapi sebenarnya teh ini juga sangat potensial untuk dipasarkan di sana. Kemudian juga wilayah seperti Rusia itu sangat tertarik sekali dengan teh ini," ujar Irman.
Volume Ekspor Teh Turun, Kopi dan Kakao Justru Naik
Data terbaru dari Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) menunjukkan volume ekspor teh hitam dan hijau pada Januari-November 2025 mencapai sekitar 28 ribu ton. Angka ini turun 13 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Sebaliknya, tren positif terjadi pada komoditas lain. Volume ekspor kopi Jawa Barat melonjak dari sekitar 3 juta ton pada 2024 menjadi 5,3 juta ton pada 2025. Kakao olahan juga mencatatkan kenaikan signifikan dengan nilai ekspor 687 juta dolar AS pada 2025, dan pada triwulan I-2026 telah mengantongi nilai ekspor 123 juta dolar AS.
Pergeseran preferensi pasar global menjadi tantangan tersendiri bagi teh curah asal Indonesia. Melalui strategi premiumisasi dan perluasan pasar, Pemprov Jabar optimistis daya saing teh lokal bisa kembali terdongkrak.