BOGOR — Jeritan para perajin tempe di Kabupaten Bogor kian nyaring terdengar. Harga bahan baku utama, kedelai, yang terus merangkak naik, ditambah dengan melonjaknya harga plastik untuk kemasan, membuat ongkos produksi mereka membengkak dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini langsung dirasakan oleh pengusaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi tempe di wilayah tersebut.
Kenaikan harga ini bukanlah fenomena baru, namun dampaknya kali ini terasa lebih berat karena terjadi secara simultan. Para perajin mengaku kewalahan menyesuaikan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang juga belum sepenuhnya pulih. Mereka khawatir jika situasi ini berlarut-larut, banyak perajin yang terpaksa mengurangi produksi atau bahkan gulung tikar.
Biaya Produksi Melonjak, Omzet Tergerus
Seorang pengusaha tempe di Kecamatan Cibinong mencontohkan, dalam sebulan terakhir harga kedelai naik hingga ratusan rupiah per kilogram. Ditambah lagi, harga plastik pembungkus tempe yang biasa dipakai untuk mengemas produk juga ikut meroket, mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia yang mempengaruhi bahan baku plastik.
Akumulasi dari kenaikan dua komponen utama ini membuat biaya produksi per papan tempe meningkat drastis. Sementara itu, harga jual di pasaran tidak bisa serta-merta dinaikkan karena khawatir akan menurunkan permintaan. "Kami dihimpit dari dua sisi, biaya naik tapi harga jual sulit naik," ujar seorang perajin yang enggan disebutkan namanya.
Desakan kepada Pemerintah untuk Segera Bertindak
Menghadapi situasi ini, para perajin tempe di Kabupaten Bogor meminta pemerintah untuk segera bergerak. Mereka berharap ada intervensi, baik dalam bentuk stabilisasi harga kedelai di tingkat distributor, maupun bantuan langsung berupa subsidi bahan baku atau kemasan. Langkah ini dinilai krusial untuk menyelamatkan ribuan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di sektor pangan lokal.
Pemerintah Kabupaten Bogor sendiri diharapkan tidak tinggal diam. Beberapa perajin mengusulkan agar pemkot atau pemkab memfasilitasi akses pembelian kedelai dengan harga lebih murah melalui kerja sama dengan Bulog atau koperasi. "Kami butuh kepastian harga agar bisa terus berproduksi," tambahnya.
Ancaman terhadap Produksi Tempe Lokal
Jika tidak ada solusi cepat, produksi tempe di Bogor terancam menurun drastis. Tempe merupakan lauk pauk murah yang menjadi sumber protein utama bagi banyak masyarakat. Gangguan pada pasokan tempe tidak hanya akan merugikan perajin, tetapi juga berdampak pada inflasi pangan dan daya beli warga kelas bawah.
Para pengusaha berharap pemerintah dapat mendengar jeritan mereka dan segera mengambil kebijakan yang berpihak pada pelaku UMKM. Mereka optimistis, dengan intervensi yang tepat, produksi tempe di Bogor bisa kembali normal dan harga di pasaran tetap terjangkau bagi masyarakat luas. Saat ini, mereka masih menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah.