BOGOR — Suasana berbeda terasa di sudut Perpustakaan Kota Bogor beberapa pekan terakhir. Tak lagi sunyi seperti perpustakaan pada umumnya, ruangan itu dipenuhi warna-warni cerah, rak buku setinggi balita, dan bantal empuk berserakan di lantai. Anak-anak duduk melingkar, ada yang asyik membalik halaman buku bergambar, ada pula yang mendengarkan dongeng dari petugas.
Bukan Sekadar Pojok Baca Biasa
Fasilitas ramah anak yang dimaksud bukan sekadar tumpukan buku anak di sudut ruangan. Pihak perpustakaan menyulap satu area khusus dengan konsep yang benar-benar mengakomodasi kebutuhan psikologis dan fisik anak. Karpet tebal, pencahayaan lembut, serta furnitur tanpa sudut tajam menjadi standar utama.
“Kami ingin anak-anak merasa bahwa perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan, bukan ruang kaku yang menakutkan,” ujar salah satu pengelola perpustakaan saat ditemui di lokasi.
Mengapa Pendekatan Ini Penting bagi Warga Bogor?
Kota Bogor selama ini gencar mengkampanyekan predikat Kota Layak Anak. Namun, tanpa infrastruktur pendukung yang tepat, program itu hanya tinggal slogan. Perpustakaan kota menjadi salah satu garda depan untuk mengubah persepsi anak terhadap buku. Alih-alih dipaksa membaca, anak-anak diajak bermain sambil belajar.
Seorang ibu yang tengah menemani anaknya, Dina (32), mengaku baru pertama kali melihat perpustakaan seramah ini. “Biasanya anak saya cuma tahan lima menit di perpustakaan. Sekarang dia betah sampai satu jam. Ini beda banget,” katanya.
Dampak ke Depan: Menumbuhkan Kebiasaan Sejak Dini
Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Psikolog anak kerap menekankan bahwa kebiasaan membaca terbentuk pada usia emas, yakni 0 hingga 6 tahun. Jika anak sudah merasa nyaman dengan buku sejak kecil, minat bacanya akan terbawa hingga dewasa. Perpustakaan Kota Bogor mencoba menjembatani celah itu dengan fasilitas yang lebih manusiawi.
Ke depan, pihak perpustakaan berencana menambah koleksi buku interaktif dan menggelar sesi dongeng rutin setiap akhir pekan. Dengan begitu, perpustakaan tak lagi menjadi tempat yang sepi dan membosankan, melainkan ruang hidup bagi tumbuhnya generasi pembaca baru di Kota Bogor.