Pencarian

Jaksa Agung New York dan New Jersey Umumkan Investigasi Praktik Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Dituduh Ciptakan "Kelangkaan Palsu"

Kamis, 28 Mei 2026 • 02:24:01 WIB
Jaksa Agung New York dan New Jersey Umumkan Investigasi Praktik Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Dituduh Ciptakan
Jaksa Agung New York dan New Jersey umumkan penyelidikan praktik tiket Piala Dunia 2026 terkait dugaan kelangkaan palsu.

JAWA BARAT — Otoritas hukum dua negara bagian AS itu mengumumkan penyelidikan pada Rabu (9/4) waktu setempat. Jaksa Agung New York Letitia James dan Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport secara khusus menyoroti praktik yang disebut "fake scarcity" alias kelangkaan palsu. Tuduhan ini mencuat setelah banyak penggemar dan jurnalis menemukan kejanggalan di peta tiket FIFA, namun baru kali ini dikemukakan langsung oleh aparat penegak hukum yang memiliki yurisdiksi.

MetLife Stadium Jadi Sorotan Utama, Termasuk Partai Final

Meski isu yang diselidiki berlaku untuk seluruh pertandingan Piala Dunia 2026, penyidik secara spesifik meminta data detail tiket untuk MetLife Stadium di East Rutherford, New Jersey. Venue ini dijadwalkan menggelar delapan pertandingan, termasuk partai puncak pada 19 Juli 2026.

"Tidak seorang pun boleh dimanipulasi untuk membayar harga selangit demi sebuah kursi. Penggemar harus percaya bahwa tiket yang mereka beli adalah tiket yang akan mereka terima," tegas James dalam pernyataan resmi.

FIFA Diduga Tahan Kuota Tiket Demi Dongkrak Harga

Davenport secara blak-blakan menuduh FIFA mempraktikkan "kelangkaan palsu" dengan menahan blok-blok tiket dari peredaran. Langkah ini diduga sengaja dilakukan untuk mendorong kenaikan harga tiket yang tersisa di pasaran. Komisaris Departemen Perlindungan Konsumen dan Pekerja New York City, Samuel A Levine, menambahkan bahwa perilaku FIFA yang dilaporkan tersebut "melanggar hukum perlindungan konsumen kota".

Harga Tiket Rata-rata Tembus Rp 16 Juta, Kenaikan Paling Tajam di Kategori Termurah

Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang menggunakan sistem dynamic pricing, di mana harga tiket berfluktuasi mengikuti permintaan. Akibatnya, harga rata-rata tiket pertandingan melayang di atas 1.000 dolar AS atau sekitar Rp 16 juta sejak masa penjualan dibuka. Analisis The Guardian awal tahun ini menemukan bahwa tiket termurah justru mengalami kenaikan harga paling tajam, tren yang terus berlanjut hingga kini.

Sebagai respons atas tekanan publik, FIFA sempat merilis alokasi terbatas tiket Supporter Entry Tier seharga 60 dolar AS pada Desember lalu. Namun, jatah ini hanya mencakup 1,6 persen dari total tiket yang tersedia. Langkah lain datang dari Wali Kota New York City Zohran Mamdani yang mengumumkan tiket khusus 50 dolar AS untuk warga New York, sudah termasuk bus pulang-pergi—sebuah nilai tambah mengingat kenaikan tarif transportasi umum New Jersey Transit menuju stadion.

Kategori Tiket Berubah Drastis, Kursi Baris Depan Dijual Berlipat-lipat

Masalah tak berhenti di harga. Pada September lalu, pejabat FIFA menyatakan akan menghapus sistem kategori tradisional (Cat 1 di sisi lapangan, Cat 2 di belakang gawang) dan menggantinya dengan sistem jarak dari lapangan. Kenyataannya, saat tiket dijual, sistem lama kembali digunakan dengan modifikasi. Pada April, FIFA bahkan menciptakan kategori baru untuk beberapa baris kursi terdepan di pinggir lapangan dengan harga berkali-kali lipat dari Cat 1 biasa.

Gubernur New Jersey Mikie Sherrill mendukung penuh investigasi ini. "Tidak seorang pun boleh dibiarkan mengeksploitasi penggemar New Jersey atau mereka yang datang ke negara bagian kami," ujarnya. Hingga berita ini diturunkan, FIFA menolak memberikan komentar. Investigasi masih berlangsung dan diperkirakan akan memanggil sejumlah pejabat tinggi FIFA untuk memberikan keterangan.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks