JAWA BARAT — Skandal pengaturan skor kembali mengguncang dunia sepak bola menjelang Piala Dunia 2026. Kali ini, metode yang digunakan berbeda—bukan hasil akhir pertandingan, melainkan momen spesifik berupa kartu kuning yang sengaja diakumulasi pemain. Laporan dari jurnalis Jacob Whitehead di The Athletic menyebut dua pemain yang akan berlaga di turnamen akbar Amerika Utara itu menjadi subjek investigasi.
Modus: Kartu Kuning Direncanakan Demi Akumulasi Hukuman
Pelanggaran pertama terjadi musim ini. Seorang pemain diduga sengaja melakukan pelanggaran keras demi mendapatkan kartu kuning dalam laga liga. Tujuannya bukan sekadar kartu, melainkan untuk memastikan dirinya menjalani skorsing sebelum laga derby penting. Dengan begitu, ia bebas dari akumulasi kartu dan bisa tampil penuh di laga besar.
Rencana ini ternyata sudah didiskusikan jauh-jauh hari. Sistem monitoring perjudian mencium kejanggalan ketika taruhan pada pemain tersebut mendapatkan kartu kuning melonjak secara tidak wajar. Pola taruhan yang tidak lazim ini menjadi alarm pertama bagi para pengawas integritas.
Kasus Kedua: Tiga Pelanggaran dalam Lima Menit Babak Pertama
Insiden kedua terjadi sebulan lalu. Lagi-lagi, pola taruhan mencurigakan terdeteksi oleh dua bandar taruhan independen. Taruhan dipasang secara masif pada seorang pemain untuk mendapatkan kartu kuning di babak pertama. Hasilnya? Pemain yang sama melakukan tiga pelanggaran dalam waktu kurang dari lima menit di awal laga, dan wasit pun mengeluarkan kartu kuning sesuai prediksi taruhan.
Nama kedua pemain sengaja tidak diungkap ke publik untuk menjaga proses investigasi yang masih berjalan. Yang jelas, keduanya sudah dilaporkan ke federasi nasional negara tempat klub mereka bernaung.
FIFA: Kebijakan Nol Toleransi, Sistem Whistleblower Aktif
Menanggapi temuan ini, FIFA langsung angkat bicara. Dalam pernyataan resmi, FIFA menegaskan kembali komitmennya terhadap integritas pertandingan. "FIFA memiliki kebijakan toleransi nol terhadap manipulasi pertandingan dan menyediakan sistem pengaduan yang aman dan terenkripsi," demikian bunyi pernyataan FIFA. Siapa pun bisa melaporkan dugaan kecurangan melalui kanal tersebut tanpa takut identitasnya terbongkar.
Skandal ini menjadi ujian pertama bagi sistem pengawasan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di 16 kota di tiga negara. Dengan 48 tim peserta, turnamen edisi ini menjadi yang terbesar dalam sejarah—dan potensi celah integritasnya pun ikut membesar.