BANDUNG — Apartemen ayam maggot di RW 02, Kelurahan Pasirlayung, Kota Bandung, dirancang untuk mengolah sampah organik warga tanpa membutuhkan lahan luas. Linus Pasasa, dosen Fisika ITB yang menggagas konsep ini, menyebut desain tersebut dibuat dalam empat tingkat dengan ukuran lahan hanya 1x6 meter.
"Ini sangat efisien untuk perkotaan karena tanah yang digunakan hanya 1x6 meter dan kapasitasnya cukup besar dengan ada empat tingkat. Yang paling atas ayam, di bawahnya maggot, ayam lagi, dan maggot berikutnya," kata Linus, Sabtu (12/9/2026).
Susunan bertingkat itu membuat kotoran ayam langsung diserap maggot di tingkat bawahnya. Menurut Linus, sistem tersebut menekan aroma yang biasanya muncul dari peternakan ayam di kawasan padat penduduk.
"Sehingga kotoran ayam juga langsung diserap oleh maggot, sehingga aroma atau bau ke lingkungan sangat minim," ujarnya.
Maggot yang dihasilkan juga dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ayam. Linus menyebut siklus biokonversi dalam sistem ini jauh lebih cepat dibandingkan komposter konvensional.
"Siklus biokonversinya sangat cepat. Sampah organik yang terkumpul dari Gaslah ini sekitar dua hari sudah beres, sudah bisa jadi kompos, dibandingkan dengan komposter yang tiga bulan sampai enam bulan baru jadi," tuturnya.
Apartemen ayam maggot di RW 02 Pasirlayung sebenarnya dirancang menampung 250 kilogram sampah organik per hari. Realisasinya, sampah yang masuk baru sekitar 50 kilogram per hari.
"Yang untuk di sini kita desain hanya untuk RW 02 di sini, dan kapasitasnya maksimum hanya 50 kilogram per hari. Sedangkan kapasitas apartemen ayam di sini 250 kilogram, artinya kita masih defisit 200 kilogram per hari," kata Linus.
Ia membuka peluang bagi RW lain di Kota Bandung yang ingin mengirimkan sampah organiknya ke lokasi tersebut. Menurutnya, pasokan tambahan dibutuhkan agar kapasitas pengolahan terpakai penuh.
"Seandainya ada RW-RW lain yang bisa mengantar ke sini, kami siap untuk mengolahnya karena kami kekurangan sampah 200 kilogram per hari," ujarnya.
Konsep apartemen ayam maggot telah diterapkan di sejumlah titik di Bandung dan sekitarnya. Total ada tujuh apartemen yang telah dibuat.
Di Kelurahan Tamansari terdapat tiga lokasi, yakni RW 11 Rumah Deret Tamansari, RW 15 di bawah Flyover Pasupati, dan RW 9 dekat Grandia Pasupati. Selain itu, terdapat apartemen ayam maggot di Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong.
Konsep serupa juga berjalan di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Perumahan Kompleks PPR ITB, serta di RW 06 Kelurahan Cigadung.
"Total kalau dikomunikasikan semua kurang lebih sudah bisa mengurai dua ton sampah organik oleh adanya apartemen ayam maggot ini," katanya.
Meski begitu, Linus menilai kapasitas itu belum sebanding dengan volume sampah organik yang dihasilkan Kota Bandung. Ia berharap ada dukungan CSR dari perusahaan lain untuk menambah kapasitas pengolahan.
"Tentu itu masih sangat kurang karena di Bandung sangat banyak sampah organik. Tinggal apa kami butuh CSR-CSR dari perusahaan lain untuk mensupport kami," ujarnya.
Selain ayam dan maggot, apartemen tersebut dimanfaatkan untuk memelihara ikan nila, ikan sidat, dan entok jumbo. Untuk ayam, terdapat ayam petelur, ayam kampung petelur, ayam Elba, serta ayam kampung pedaging.
"Selain itu, kami juga pelihara ikan nila, ada juga ikan sidat yang kaya akan omega 3, dan ada entok jumbo," katanya.
Hasil telur dari ayam yang dipelihara belum dipasarkan secara luas. Telur masih disalurkan kepada warga sekitar RW 02.
"Sementara hasil telur ini kami salurkan ke warga di sini. Jadi belum meningkat ke penjualan karena kapasitas telurnya belum terlalu banyak," tuturnya.
Telur tersebut direncanakan mendukung penanganan stunting dan kebutuhan Posyandu di RW 02. Jika produksi meningkat, sebagian hasilnya akan dijual melalui bank sampah dan masuk ke kas bank sampah setempat.
"Untuk mengatasi stunting di RW 02 dan juga untuk Posyandu, kami akan bagikan juga ke warga yang sangat rentan atas kekurangan gizi," katanya.