Pemkot Cirebon Targetkan Angka Stunting Turun ke 13,05 Persen, Intervensi Dimulai dari Calon Pengantin hingga Balita

Penulis: Zaki Mubarak  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 15:15:01 WIB
Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati menyampaikan target penurunan angka stunting menjadi 13,05 persen pada akhir tahun ini.

CIREBON — Angka stunting di Kota Cirebon menunjukkan tren penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, prevalensi balita kerdil pada semester pertama 2026 tercatat 14,13 persen, turun tajam dibandingkan 19,9 persen pada 2023. Meski begitu, Pemkot Cirebon menargetkan angka tersebut bisa ditekan lagi menjadi 13,05 persen pada akhir tahun ini.

Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati menegaskan bahwa upaya penurunan stunting tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Perlu kerja ekstra dan keterlibatan semua pihak, karena masalah ini berhubungan langsung dengan kualitas generasi penerus di wilayahnya.

"Ini adalah ancaman nyata terhadap kualitas, kecerdasan, dan produktivitas generasi Kota Cirebon di masa depan," ujar Siti Farida dalam keterangan yang diterima akhir pekan lalu.

Sepuluh dari 12 Poin Intervensi Sudah Lampaui Target

Pemkot Cirebon mengklaim 10 dari 12 poin intervensi kesehatan penanganan stunting telah melampaui target yang ditetapkan. Salah satu capaian paling menonjol adalah cakupan kelurahan bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang sudah mencapai 100 persen. Pelayanan tata laksana gizi buruk pada balita juga menuntaskan target serupa.

Capaian lain yang melampaui target antara lain skrining anemia remaja putri yang mencapai 95,34 persen dari target 75 persen, serta konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) oleh remaja putri yang menyentuh 92,9 persen dari target 65 persen. Pemeriksaan kehamilan (ANC) enam kali juga tercatat 44,4 persen, di atas target 40 persen.

Untuk kelompok balita, pemantauan pertumbuhan (D/S) mencapai 94,47 persen dari target 80 persen. Cakupan bayi di bawah 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif berada di angka 75,52 persen, melampaui target 73 persen. Anak usia 6-23 bulan yang menerima MP-ASI beragam juga tinggi, yakni 93,98 persen dari target 73 persen.

Dua Intervensi Masih Butuh Kerja Ekstra

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Cirebon, Sutikno, mengungkapkan masih ada dua poin intervensi yang belum mencapai target. Pertama, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita gizi kurang yang baru mencapai 29,82 persen dari target 32,5 persen. Kedua, cakupan imunisasi lengkap bagi baduta yang baru tercapai 30,5 persen dari target 35 persen.

"Dukungan pemerintah pusat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok penerima manfaat 3B, yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, turut menjadi bagian dari penguatan pemenuhan gizi," kata Sutikno.

Pencegahan Dimulai Sebelum Kehamilan

Strategi yang dijalankan Pemkot Cirebon tidak hanya berfokus pada balita yang sudah mengalami masalah gizi. Intervensi justru diarahkan lebih awal, menyasar calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui yang memiliki risiko stunting. Pemkot juga gencar melakukan pemutakhiran data agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi lapangan.

Selain mengandalkan program MBG dari pusat, Pemkot Cirebon menjalankan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan balita bermasalah gizi melalui Puskesmas. Edukasi kepada keluarga juga terus diperkuat.

"Upaya tersebut diarahkan agar pencegahan tidak dimulai ketika anak telah mengalami stunting, tetapi dilakukan sejak sebelum kehamilan hingga masa tumbuh kembang anak," tutup Sutikno.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: dialogindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top