BANDUNG — Perbaikan kualitas hidup warga Jawa Barat sepanjang 2025 tercatat paling agresif dalam setengah dekade terakhir. BPS mencatat IPM Jabar bertambah 0,98 poin menjadi 75,90, lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur yang naik 0,78 poin dan Jawa Tengah yang tumbuh 0,90 poin.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyebut seluruh komponen pembentuk IPM mengalami perbaikan secara bersamaan. Komponen tersebut mencakup sektor kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.
Pada aspek kesehatan, umur harapan hidup (UHH) warga Jabar pada 2025 mencapai 75,53 tahun atau bertambah 0,37 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan ini sejalan dengan meningkatnya akses rumah tangga terhadap sumber air minum layak sebesar 0,94 persen poin.
Di sisi lain, jumlah rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air besar turun 0,50 persen poin. Angka ini menjadi indikator penting membaiknya sanitasi dasar di tingkat rumah tangga.
Dunia pendidikan juga menunjukkan tren positif. Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 13,02 tahun, meningkat 0,22 tahun atau 1,72 persen dibandingkan 2024. Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk berusia 25 tahun ke atas menyentuh 9,14 tahun.
Artinya, secara rata-rata penduduk kelompok usia tersebut telah menempuh pendidikan hingga setara tamat SMP atau kelas IX. Pertumbuhan RLS tercatat 3,04 persen dari tahun sebelumnya.
Dari sisi ekonomi, pengeluaran riil per kapita masyarakat Jabar mencapai Rp 12,45 juta per tahun. Angka ini bertambah sekitar Rp 290 ribu atau tumbuh 2,39 persen dibandingkan tahun lalu.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengklaim kenaikan IPM Jabar pada 2025 menjadi yang tertinggi secara nasional jika dilihat dari pertambahan poinnya. “IPM Jawa Barat naik hampir satu poin,” kata Dedi, Minggu (9/8/2026).
Dedi berharap capaian ini bisa dipertahankan agar IPM Jabar mampu menembus jajaran 10 besar nasional. “Kita harus terus bekerja meningkatkan IPM Jawa Barat,” ujarnya.
Penurunan angka kemiskinan sebanyak 193.920 orang tersebut sekaligus menegaskan bahwa perbaikan ekonomi tidak hanya dinikmati kelompok menengah ke atas. Persentase penduduk miskin juga berkurang 0,44 persen poin, menjadi indikator membaiknya daya beli rumah tangga berpendapatan rendah.