JAWA BARAT — Pergerakan rupiah hari ini justru kontras dengan mayoritas mata uang Asia yang kompak melemah. Won Korea Selatan turun 0,38 persen, yen Jepang melemah 0,27 persen, rupee India minus 0,12 persen, dan dolar Singapura turun 0,10 persen.
Hanya peso Filipina yang ikut menguat tipis 0,05 persen, sementara dolar Hong Kong stagnan di posisi sebelumnya. Mata uang negara maju pun seragam merah: poundsterling Inggris melemah 0,09 persen, euro Eropa minus 0,09 persen, dolar Australia turun 0,11 persen, franc Swiss minus 0,07 persen, dan dolar Kanada melemah 0,05 persen.
Pergantian Menkeu Jadi Sentimen Positif
Analis pasar uang Lukman Leong menilai ada faktor domestik yang menahan rupiah dari pelemahan lebih dalam. Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara diperkirakan mendapat respons positif dari pelaku pasar.
"Namun, ruang penguatan rupiah diperkirakan terbatas oleh harga minyak mentah dunia yang tetap tinggi serta sikap wait and see investor menjelang rapat FOMC pada Rabu," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar Rabu menjadi momen paling dinanti pekan ini. Pasar menanti sinyal arah suku bunga The Fed, yang akan menentukan daya tarik aset dolar AS dibandingkan mata uang emerging market seperti rupiah.
Proyeksi Hari Ini: Rp17.600–Rp17.700
Dengan sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.600 sampai Rp17.700 per dolar AS sepanjang hari ini. Rentang itu mencerminkan ekspektasi penguatan terbatas, bukan tren apresiasi yang kuat.
Bagi pelaku usaha yang punya kebutuhan dolar jangka pendek, rentang sempit ini bisa jadi acuan timing pembelian valas. Sementara investor asing cenderung menahan posisi di aset berdenominasi rupiah sampai arah kebijakan The Fed jelas.
Pergerakan rupiah hari ini juga patut dicermati menjelang data cadangan devisa dan arus modal asing di pasar SBN. Keduanya jadi indikator apakah penguatan tipis ini berlanjut atau berbalik arah pasca-FOMC.