KUNINGAN — Pergantian tahun baru Islam, 1 Muharram, menjadi pengingat bagi umat Muslim di Kuningan untuk melakukan evaluasi diri. Bukan pesta pora, momen ini dimaknai sebagai tadzkirah bahwa jatah hidup di dunia terus berkurang, meski angka usia bertambah. Seperti diingatkan Imam Hasan Al-Basri, setiap hari yang berlalu adalah bagian dari diri manusia yang tidak akan pernah kembali.
Audit Amal Sebelum Hari Perhitungan
Khalifah Umar bin Khattab RA, yang dijamin surga sekalipun, memiliki kebiasaan rutin mengevaluasi dirinya. Pesannya tegas: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Di era modern, ajakan ini relevan untuk mengaudit penggunaan waktu, harta, dan ilmu. Rasulullah SAW telah mengingatkan empat hal yang akan ditanyakan di akhirat: umur, masa muda, harta, dan ilmu.
Pertanyaan reflektif pun muncul. Dari 525.600 menit dalam setahun, berapa yang digunakan untuk sujud? Berapa banyak yang habis untuk menelusuri media sosial tanpa arah? Harta yang dimiliki, berapa persen yang menjadi sedekah jariyah dan berapa yang habis untuk gengsi?
Waktu Adalah Harta Paling Mahal
Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah berkata bahwa siapa yang mengetahui arti waktu, berarti mengetahui arti kehidupan, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Menyia-nyiakan satu jam sama dengan membunuh satu jam dari hidup. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Al-Waqtu fi Hayatil Muslim merinci tiga karakter waktu: cepat berlalu, tidak akan kembali, dan merupakan harta paling mahal.
Panjang umur tanpa amal saleh dinilai sebagai musibah. Setiap tambahan napas berarti peluang maksiat jika tidak diisi kebaikan. Para salaf seperti Imam Nawawi yang wafat di usia 45 tahun, namun karyanya Riyadhus Shalihin masih menghidupi umat hingga kini, menjadi bukti bahwa kualitas amal lebih utama dari sekadar panjang usia.
Resolusi Hijrah untuk Berbagai Profesi
Momentum tahun baru hijriyah juga menjadi ajang untuk menetapkan resolusi. Umat diajak melakukan hijrah sesuai profesinya masing-masing. Bagi penggiat media, hijrah dari provokasi ke pencerahan dengan menyajikan informasi yang menyejukkan dan mencerdaskan, serta menjalankan tabayyun total sebelum menyebar berita.
Sementara itu, bagi pengusaha dan pemilik harta, hijrah dari kebiasaan menumpuk harta menjadi mengalirkannya untuk kemaslahatan. Resolusi ini mencakup menjalankan bisnis yang halal, transparan, bebas riba, dan memberikan upah layak kepada karyawan. Dengan muhasabah dan resolusi ini, setiap pergantian tahun diharapkan menjadikan manusia lebih bernilai di hadapan Allah dan terhormat di tengah umat.