BANDUNG — Mayjen TNI Kosasih bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan HUT ke-67 Menwa Mahawarman Jawa Barat. Kehadiran orang nomor satu di Kodam III/Siliwangi itu menjadi penanda kedekatan historis antara TNI dan organisasi yang lahir di bumi Parahyangan ini.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat MQ Iswara turut hadir sebagai tamu kehormatan. Kehadirannya, menurut panitia, menegaskan peran strategis Menwa Mahawarman dalam ekosistem pembangunan sumber daya manusia dan kebangsaan di Jawa Barat.
Amanat Pangdam: Jangan Sekadar Bernostalgia
Dalam amanatnya, Mayjen TNI Kosasih mengingatkan agar Menwa Mahawarman tidak sekadar bernostalgia dengan sejarah besarnya. Sebagai pelopor tradisi Menwa di tanah air, organisasi ini dituntut memperkuat kaderisasi dan meningkatkan kualitas SDM agar tetap menjadi teladan bela negara di masyarakat.
“Tantangan bangsa hari ini memerlukan figur muda yang tidak cuma cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, punya jiwa kepemimpinan, dan kepedulian sosial yang tinggi,” kata Pangdam III/Siliwangi.
Peringatan tahun ini juga dihadiri para alumni lintas generasi. Tampak di antaranya Budiono serta Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, Guru Besar Fikom Unpad yang juga mantan Kepala Staf Resimen Mahasiswa Mahawarman. Kehadiran para tokoh itu menjadi cerminan bahwa Mahawarman melahirkan insan yang kini berkiprah di dunia akademik, birokrasi, hingga profesional.
Bakti Sosial ke Ponpes dan Yayasan
Komandan Menwa Mahawarman Jawa Barat, Ali Budiman, menegaskan bahwa organisasinya harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan zaman tanpa menanggalkan jati diri sebagai organisasi pengabdian.
“Menwa siap menjadi agen perubahan dan memajukan NKRI bersama elemen bangsa lainnya. Semangat pengabdian yang menjadi jati diri Mahawarman harus terus diwujudkan dalam aksi nyata untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” tegas Ali Budiman.
Komitmen itu langsung dibuktikan. Dalam rangkaian hari jadinya yang ke-67, Menwa Mahawarman menyalurkan bantuan kebutuhan pokok ke sejumlah pondok pesantren dan yayasan sosial di wilayah Bandung Raya. Langkah ini mempertegas bahwa bela negara tidak melulu soal kedisiplinan dan latihan fisik, melainkan juga kepekaan sosial terhadap masyarakat sekitar.