JAWA BARAT — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menegaskan bahwa pihaknya senantiasa meyakini dialog dan negosiasi merupakan jalan yang tepat untuk menyelesaikan sengketa internasional. "Gencatan senjata antara AS dan Iran yang baru-baru ini terjadi, serta upaya untuk menyelesaikan masalah melalui negosiasi, disambut baik oleh negara-negara di kawasan tersebut maupun oleh komunitas internasional," kata Mao Ning di Beijing.
Kerangka Kesepakatan Awal dan Pembukaan Selat Hormuz
Menurut pemberitaan Washington Post yang mengutip seorang diplomat, AS dan Iran telah menyepakati pembukaan penuh Selat Hormuz dalam waktu 30 hari ke depan sebagai bagian dari kesepakatan awal. Kesepakatan itu juga mencakup penundaan pembicaraan nuklir hingga waktu yang akan datang, meski pihak Iran belum menyetujui kerangka awal tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Minggu (24/5) di New Delhi menyatakan kemajuan telah dicapai dalam penyusunan kerangka kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan. Rubio mengklaim AS bersama mitra di kawasan Teluk telah membuat kemajuan diplomatik dalam 48 jam terakhir.
Peran Mediasi China dan Pakistan
Mao Ning menyebut China terus berupaya demi terciptanya perdamaian sejak konflik ini bermula. "Presiden Xi Jinping telah mengajukan empat usulan mengenai upaya menjaga dan memajukan perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah. China juga akan terus bertindak selaras dengan usulan-usulan tersebut," jelasnya. Tren positif ini terjadi tak lama setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada 13-15 Mei 2026.
Sementara itu, Pakistan memainkan peran penting sebagai tuan rumah perundingan damai di Islamabad pada 11-12 April 2026 meski gagal mencapai kesepakatan. Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir juga telah berkunjung ke Iran pada 22-23 Mei 2026 untuk membahas kesepakatan damai. Saat ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sedang berada di China untuk kunjungan resmi.
Sikap Iran dan Implikasi Ekonomi Global
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan Teheran meyakinkan komunitas internasional bahwa negaranya tidak mengembangkan senjata nuklir maupun menciptakan ketidakstabilan di kawasan. Ia justru menuding Israel sebagai pihak yang mendorong ketidakstabilan melalui visi "Israel Raya." Pezeshkian juga menegaskan para negosiator Iran tidak akan pernah berkompromi terkait "kehormatan dan martabat" negara.
Ketegangan di Timur Tengah berawal pada 28 Februari 2026 saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran. Konflik ini nyaris menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia—yang memicu lonjakan harga energi global. Mao Ning menekankan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran sesegera mungkin guna menjaga stabilitas rantai pasok dunia.
"Selain itu, tidak kalah penting untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan langgeng sesegera mungkin, demi memulihkan kembali perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah dan Teluk," pungkas Mao Ning.