KUNINGAN — Instruksi Bupati Kuningan untuk segera membenahi sistem drainase di kawasan wisata Palutungan menjadi angin segar di tengah keresahan warga. Banjir yang terjadi beberapa waktu lalu memicu pertanyaan publik soal kesiapan infrastruktur di destinasi alam tersebut.
Namun, perbaikan saluran air hanyalah solusi permukaan. Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai, persoalan di Palutungan jauh lebih kompleks dari sekadar drainase tersumbat.
Wisata Tumbuh Cepat, Daya Dukung Alam Menurun
Palutungan selama ini dikenal sebagai kawasan hijau penyangga lereng Gunung Ciremai. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan vila, kafe, glamping, dan tempat usaha tumbuh pesat. Ekonomi warga memang ikut bergerak, tetapi alam memiliki batas.
Tanah resapan mulai tertutup bangunan dan betonisasi. Akibatnya, air hujan kehilangan ruang masuk ke tanah dan langsung membebani saluran drainase. Ketika hujan deras, saluran sebesar apa pun bisa kalah jika lingkungan di sekitarnya sudah melemah.
Audit Lingkungan Jadi PR Berikutnya
Pemerintah daerah kini dituntut tidak berhenti pada normalisasi drainase. Langkah berikutnya yang dinilai jauh lebih penting adalah audit lingkungan menyeluruh. Mulai dari evaluasi tata ruang, pengawasan pembangunan, hingga penataan kawasan resapan.
Dadan Satyavadin, pemerhati kebijakan publik yang menulis analisis di media lokal, menekankan bahwa wisata alam hidup dari alamnya. “Ketika alam mulai kehilangan kemampuan melindungi dirinya, saat itulah pembangunan harus mulai dikoreksi,” tulisnya.
Disiplin Lingkungan Warga Jadi Kunci
Selain kebijakan pemerintah, masyarakat juga perlu membangun disiplin lingkungan bersama. Di beberapa titik, pembangunan di pinggir jalan masih terlihat kurang memberi ruang drainase yang memadai. Persoalan lingkungan tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi kadang dari kebiasaan kecil yang dianggap biasa.
Faktor cuaca ekstrem memang nyata terjadi di banyak daerah. Namun, pemerintah tidak boleh terus berlindung di balik alasan cuaca apabila pola gangguan lingkungan mulai berulang.
Masa Depan Wisata Palutungan Dipertaruhkan
Jika wisata hanya dibangun untuk ramai hari ini tanpa menjaga keseimbangan alam, masa depan Palutungan bisa terancam. Bukan hanya lingkungan yang hilang, tetapi juga potensi ekonomi jangka panjang dari sektor wisata alam itu sendiri.
Instruksi bupati memperbaiki drainase adalah langkah awal. Tapi langkah berikutnya—keberanian menyeimbangkan investasi dengan konservasi—akan menentukan apakah Palutungan tetap hijau atau perlahan kehilangan daya tariknya.